jauh sekali rumahmu (bagian 2)

Sementara adzan subuh sudah memanggil dari mesjid yang tidak jauh dari sana. Melihatku bengong dengan kerir di depan mesjid. Sebuah mobil butut yang lewat berhenti. Dengan logatnya yang kental ia berucap :”aku nak ke kampong duo. Nak melok?” Aku menggeleng. “Terimakasih Pak, tapi tidak!” kami belum siap berangkat sepagi itu.

Banyak yang naik. Mungkin karena ada dua hari libur nasional yang berderet berimpitan. Beragam pula yang naik. Mulai dari temen-temen mahasiswa UNSRI. Pegawai Kecamatan Pagar Alam, adik-adik SMA di Tanjung Raja. Ada pula yang dari Lampung, satu rombongan ketika kami akan turun. Bahkan ada penduduk yang membayar kaulnya dengan memotong kambing dan ayam di pelataran Dempo.

Akhirnya suwasti memutuskan untuk menelpon sopir truk –yang biasa mengangkut pemetik teh- untuk menghemat tenaga dan waktu. Kami memutuskan untuk naik hingga kampung 4. Syukur-syukur malah hingga ke pintu rimba. Aku membayangkan jalur cimelati, gunung salak. Naek ojek hingga persis sis pintu rimba ..hehehe..

Jam delapan pagi adik si sopir tiba. Tak berapa lama, sopirnya pun datang. Ia meminta bayaran 200 ribu. Katanya, bulan lalu ia dibayar 250 ribu oleh pendaki yang datang dari Jakarta. . “astaga!” ucapku dalam hati. Mahal sekali. Maka otak kami pun berputar. Kami ajak teman-teman yang masih ada di pondok pendaki. Sharing untuk naik. Lumayan ada tambahan 18 orang. Masing-masing kami kutip sebesar lima ribu rupiah.
“kok lima ribu?” protesku. “namanya juga mahasiswa, Hany” jawab Joko. “Masih untung ada yang mau sharing. Karena dengan atau tanpa mereka, kita tetap harus sewa kendaraan”

Maka masuklah kami semua ke dalam truk. Pak Anton sengaja datang dan mengantar kami semua. Aku sempat ngobrol sebentar dengan Pak Anton. Malah nitip teh dan kopi dempo. Untuk kami bawa sebagai oleh-oleh nanti ketika kami kembali ke Jakarta.

Setengah jam kemudian, truk kami sudah berjalan melewati perkebunan teh. Jalan aspal mulus. Kami semakin naik mendekati punggung gunung. Kampung 2 kami lewati. Dan setengah jam kemudian, mulailah kami memasuki jalan batu yang cukup mengguncangkan isi perut kami.

Aku minta si sopir untuk berhenti sebentar di kampung 4. Kontraknya adalah berhenti hingga entry point pintu rimba. Suwasti jauh-jauh hari sudah menghubungi pak Rohim untuk memesan tambahan logistik. “Udah gw sms” oh… tenanglah hatiku. “ jadi mau pesen ayam? Harganya 27 ribu”

Namun urung kami pesan. Ayamnya belum di potong. “Huuuuuu!” kekesalanku bertambah. Rupanya, pesanan yang di sms Suwasti, belum disiapkan olehnya. Aku dan Suwasti berpandang-pandangan. Warung pak Rohim ini menjadi satu dengan rumahnya. Tidak ada ruang tamu. Hanya ada meja panjang tempat orang duduk untuk sarapan. Ada sekitar 5 orang. Satu orang wanita dan sisanya laki-laki. Masih muda. Mungkin masih mahasiswa. Dari kostumnya sudah dapat aku tebak. Mereka pendaki dan mau naik. Mereka seolah tidak memperdulikan sekitar. Tiada henti-hentinya tertawa sambil sarapan. Jangan-jangan pada tripping nih, batinku.
Ketawanya nggak wajar. -kemudian di pos dua kami sempat berkenalan. Waktu itu kami baru naik, dan mereka dalam perjalanan turun. Mereka mahasiswa dari Padang-

Disamping ruang utama itu, ada satu ruang tengah yang sekaligus menjadi dapur. “Ibu kemana pak?” tanyaku. Melihat ia sibuk menyiapkan mie instant dan nasi pesanan kami. “Lagi ada syukuran di rumah tetangga” Lama-kelamaan kekesalanku luntur. Pak Rohim ini sabar sekali meladeni kebawelan kami. Aku dan Suwasti akhirnya menyiapkan sendiri logistik yang kami perlukan. Telur, bawang, ikan asin, sayur. Semua kami siapkan. Kami tumpuk dalam satu tumpukan kecil. Agar dapat dihitung nanti oleh pak Rohim. (yang sementara itu sibuk menyiapkan sarapan untuk kami)

Ada perasaan tidak enak juga meninggalkan teman-teman yang berdelapan belas itu di truk. Aku pikir, Joko sudah menyampaikan kepada mereka, bahwa kami akan berhenti sekitar setengah jam disini. (yang kemudian molor jadi sejam) Maaf ya teman-teman.
Read more

jauh sekali rumahmu (bagian 1)

kamis 20 maret 2008
Subuh itu, kendaraan yang kami tumpangi baru saja tiba di kaki gunung Dempo. Kami penumpang terakhir yang diantar pagi buta itu. Setelah menempuh delapan setengah jam perjalanan dari kota Palembang.

Tubuhku terasa penat walau sempat tertidur sejenak di dalamnya. “Telat luar biasa” keluhku. Semalam, kendaraan kami, baru beranjak pukul tujuh malam dari pol travel Telaga Biru di Palembang dan langsung meluncur menuju Pagar Alam, padahal setidaknya pukul satu malam kami sudah tiba disini.

Kami berempat –saya, joko, suwasti dan dotten- Berangkat dari Jakarta kemarin, hari Rabu tanggal 19 Maret 2008. Kami tiba di Palembang siang hari dan disambung dengan travel menuju kota Pagar Alam.

Mendadak hilang kantukku, ketika aku keluar dari mobil. Dingin. Samar masih dapat kulihat gunung tertinggi di bumi Sriwijaya itu. Tingginya 3159meter. Enggan membangunkan Pak dan Mak Anton, kami bergegas menuju pondok pendaki yang ada di belakang rumah Pak Anton. Bedeng kayu dan seng sederhana. “Penuh!” bisik Joko. Kulihat orang bersarung sleeping bag tidur berjejal memanjang. Bahkan ada dua tenda yang di gelar di depan pondok karena tak kuasa menampung penghuninya.

Hari ini awal yang melelahkan bagi kami berempat. Walau kami sempat tidur di jalan, namun tak selesa rasanya. Sambil bebenah di teras rumah Pak Anton, rencanapun kami susun ulang. Sebagian barang yang tidak kami perlukan, kami titipkan di rumah Pak Anton. Kami akan naik hingga pos 1 saja dulu. Pos ini ada di ketinggian 2165 meter. “Sekalian aklimatisasi ” Baru keeesokan harinya kami sambung hingga puncak Dempo dan kemudian turun menuju pelataran untuk bermalam. Pelataran yang dimaksud disini adalah sebuah lapangan terbuka, sebuah lembah kecil yang diapit oleh puncak Gunung Dempo dan puncak Gunung Marapi.

Ada satu hal yang lupa kami perhitungkan. Yaitu hari libur nasional. Tentunya tak ada truk pengangkut pemetik teh yang dapat kami tumpangi. Menurut informasi yang kami terima sebelumnya. Truk pengangkut pemetik teh berangkat pukul setengah enam dan setengah tujuh pagi menuju kampung 4.



serpong 28 maret 2008 ; 20.46
Read more

Ciremai saat itu, langit-Mu biru sekali




dan saat itu, langitmu biru sekali.
enggan rasanya turun kembali ke bumi.



trip reuni jalur apuy-palutungan,
tiga hari dua malem
menuju Ciremai 3078 mdpl
3-5 Oktober 2008
bareng Jenny, Devi dan Steve,
thanks guys!
Read more

galunggung, katakan padaku yang sebenarnya kau mau




“Ada yang aneh dengan danau ini, Win”
“Apa mbak?”
“Danaunnya terlalu tenang.” “Mencurigakan”

Dan kemudian hening, mengikuti denyut nadi sang danau yang pendiam itu. Dibalik rupamu yang murung dan sendu itu, kami sepakat, tempat ini adalah salah satu tempat terindah yang pernah kami lihat. Dan pada suatu hari nanti, kami pasti kembali.

Galunggung, 30-31 Agustus 2008


Catatan : judul dipetik dari lirik lagu katakan sebenarnya by Dewiq. (satu lagu yang terngiang terus sepanjang perjalanan hari itu)

Makasih juga buat temen-temen kempingku kali ini : nice trip guys!

Read more

di pangrango.. kami bercakap sepanjang malam




Begitulah, kami bercakap sepanjang malam: berdiang pada
    suku kata yang gosok-menggosok dan membara.
    “Jangan diam, nanti hujan yang mengepung kita akan
    menidurkan kita dan menyelimuti kita dengan kain
    putih panjang lalu mengunci pintu kamar ini!”
Baiklah, kami pun bercakap sepanjang malam: “ Tetapi begitu
cepat kata demi kata menjadi abu dan mulai beter-
bangan dan menyesakkan udara dan …”

sajak, 1 sapardi djoko damono 1973


Serpong, 18 juli 2008

-sebuah perjalanan panjang menuju Pangrango 12-13 juli 2008, thanks to : Suwasti Dewi Anitasari, Kris Hartanto n Taufan Hidayat juga temen-temen yang kebetulan naek bareng : Enoy, Bongkeng, Heni dan Mbak Utari plus Abah dan Wahyu-

Read more

bahkan ketika kami pergi pun, dempo akan selalu ada disini




Gunung Dempo ada di Sumatera Selatan. Tujuh jam perjalanan darat dari Palembang. Gunung tertinggi di bumi Sriwijaya itu memiliki ketinggian sekitar 3159 meter diatas muka laut.

Tiga malam di gunung. Tanpa kami sadari, semua shelter kami sambangi. Pos satu di malam pertama. Pelataran pada malam kedua. Dan terakhir, kami bermukim di pos dua.

 Kisah selanjutnya cukup mendebarkan. Mulai dari jalur yang licin dan pijakan yang setinggi paha dan kepala. Angin yang menderu-deru semalaman. Puncak Marapi yang selalu tertutup kabut dan kemudian baru kami tahu mengapa tidak ada pendaki lain yang berani menginap di pos satu atau pos dua.

Nah lo?

 
Trip dempo 19-25 maret 2008 bareng Joko, Suwasti dan Dotten

Read more

dari tepi ranu kumbolo hingga atap sumbing yang redup


Date picture taken         :           21/11/2005       17:33

Sindoro dan Sumbing adalah dua gunung yang letaknya saling berdekatan. Foto ini saya ambil ketika saya dalam perjalanan naik menuju puncak gunung Sumbing. Ketika itu saya dapat memandang lepas ke arah Sindoro, gunung yang berada persis di sebelah gunung ini. Terasa indah dan agung tapi pada saat yang bersamaan terasa muram dan begitu misterius. Aneh sekali.



“Semua sudah diterima dengan baik mbak. Saya tunggu di Omah Sendok ya, tks.” Jawab Sony.

Itu akhir percakapan saya dengannya kemarin sore. Kenapa bisa janjian di omah sendok ya? Hehehe.. …begini ceritanya.

Semua ini berawal dari acara "Kelana Nusantara 2007" yang diselenggarakan oleh milis Natrekk

Salah satu kegiatannya berupa pameran foto. Foto-foto yang mewakili kisah perjalanan para membernya. Dan kriterianya adalah pemilihan lokasi serta kemampuan foto tersebut untuk "mengajak" mengunjungi tempat tersebut.

Dari dua belas foto yang saya kirim bulan lalu, ada tiga frame yang terpilih. Seneng? Ya iyalaah… sudah pasti :D Walau sebenarnya saya ragu. Apa yang kayak gini sesuai dengan kriteria? Sumpah. Setengah mati saya bongkar dan pilih foto-foto lama. -favorit saya tentunya :D- Susah banget nentuinnya. Lha wong kebanyakan malah foto-foto profile dan detail. Yaelaaaah….

Pengen tahu foto mana -tiga dari duabelas ini- yang jadinya dipajang disana? Maka dari itu teman-teman, minggu depan tanggal 17-18 Nopember 2007, jangan lupa mampir ke Café Omah Sendok, Jl. Mpu Sendok 45 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Terbuka untuk umum kok, dateng ya….

Info detail silakan mampir :"Kelana Nusantara 2007"

mengenai natrekk silakan buka yang ini :  www.nature-trekker-indonesia.com

Read more
 

hujan, jalak dan daun jambu Design by Insight © 2009