catper trip lawu via ceto episode : BUS ARMADA SAYUR

setengah sebelas siang.

Bus tujuan Tawangmangu yang kami tumpangi hari itu penuh sesak. Wajar karena ini satu-satunya moda transportasi murah meriah hingga Tawangmangu. Isinya kebanyakan sih penduduk lokal. Dan kadang turis lokal seperti kami. Kali ini Emma menjadi bendahara team. Sebelum berangkat tadi kami sudah urunan untuk pengeluaran selama disini. Tiap orang dikutip Rp 6,000 hingga terminal Karangpandan.

Kami duduk agak di belakang. Berhimpitan bersama penumpang lainnya. Ada yang membawa barang keranjang belanjaan dan sayur mayur yang disusun rapi bersama kelima kerir kami. Tapi yang menarik adalah sekarang bus trayek ini sudah dilengkapi dengan TV dan perangkat DVDnya. Siang itu diputar pertunjukan organ tunggal dari kampung terdekat. Cukuplah membuat seluruh penumpang bergoyang.

Satu jam kemudian kami diturunkan tepat di depan pintu masuk terminal Karangpandan. Dari informasi yang kami googling sebelum kami kesini, dari Terminal Karangpandan, kami harus naik angdes menuju pasar Kemuning. Pasar ini adalah pasar di desa Kemuning, desa yang letaknya tak jauh dari Candi Ceto. Sebelum mencapai pasar Kemuning, ada pangkalan ojek yang dapat mengantar hingga candi Ceto. Menurut info, tarifnya Rp 25,000/motor.

Tampang culun kami berlima menarik perhatian salah seorang sopir angdes –angkutan pedesaan- itu. Sopir angdes ini usul untuk langsung carter saja hingga candi Ceto, karena biasanya angkutan ini hanya beroperasi di pagi hari, mengantar orang untuk jual beli di pasar Kemuning.

Tawarannya tak kami tolak. Toh masih masuk budget. Daripada nyambung-, kami sih pilih carter aja. Ongkos Rp 60,000 sekali carter. Lagipula, saya nggak yakin deh bisa naik ojek dengan beban seberat ini mampu melewati tanjakan menuju Candi Ceto yang super aduhai itu.

“Tapi nggak narik penumpang lagi ya?” tawar Kris. Trauma dengan trip di masa lalu yang malah kelamaan di jalan karena si sopir masih menarik penumpang di tengah jalan.

“Iyaa”


“Dianter sampe pintu gerbang candi ya?” tambah saya. –lagi males jalan jauh -

“Iyaaaa…!!!” sopirnya ngambek. Hehehe…

Jam satu siang kendaraan yang kami sewa benar-benar menghentikan mobilnya tepat di depan pintu gerbang Candi. Hahaha… wong ujung jalannya adalah pintu gerbang candi.

Walau sepanjang jalan mata kami dimanjakan oleh hijaunya kebun teh yang ada di kanan kiri kami, tadi kami sempat juga deg-deg an karena mobil terus menerus menanjak dan berbelok melewati tikungan tajam. Untung sopirnya amat cekatan membawa kendaraannya. 

Dan hujan pun turun.

“Great! “ keluh saya dalam hati.

Sambil membuka payung masing-masing dan membayar tiket masuk ke kawasan Candi Rp 2,500 per orang (Rp 10,000 untuk wisata mancanegara) setelah itu kami masuk ke salah satu warung yang letaknya tak jauh dari pintu gerbang candi. Ada sate kelinci sebagai menu utamanya.


“Apa? Kelinci?” Emma ragu-ragu. Joan juga sangsi.

“Haruskah kami makan makluk berbulu halus dan berwajah cute itu? “ tampang mereka berdua mendadak seperti kelinci  Oh.. rasanya tidak tega. 


Tapi akhirnya kami santap juga. Hanya Joan yang memesan sate ayam. Kami makan di teras warung –yang sekaligus menjadi rumah tinggal si ibu- Warung ini bangunan terdekat yang ada di depan kompleks candi. Sebenarnya kami tidak perlu khawatir jika datang kemalaman di tempat ini. Disini banyak penginapan. Saya nggak sempat tanya berapa harga sewa permalamnya. Dan disini juga ada beberapa warung makan, tempat parkir mobil dan motor berikut 2 toilet sederhana yang airnya dingin sekali.

15.30 WIB Pos Candi Ceto (1480 mdpl)

“Sekarang sudah jam setengah empat sore” ucap saya sambil menutup doa. Sambil melirik jam tangan “dan kita sudah ada di ketinggian 1500-an” lanjut saya lagi. Sedikit mengeluh –dan melenguh - karena molor lebih dari tiga jam. Seandainya tidak ada yang terlambat tadi, seharusnya kami sudah naik sekitar jam 1 siang tadi.

Kami berdiri tepat di depan pintu gerbang Candi. Ada puluhan anak tangga yang terus naik menuju gapura pertama. Ada sembilan teras–dari sebelas- yang telah direnovasi yang memanjang dari arah barat (tempat kami berdiri) dan terus naik ke arah timur mengarah ke puncak Lawu.

Sore itu cukup cerah. Hujan baru saja berhenti. Dan tempat wisata ini tidak terlalu ramai walau hari itu adalah hari libu
r nasional. Saya menduga karena sesiang tadi tempat ini terus diguyur hujan.


Untuk naik ke gunung Lawu, dari depan kawasan Candi Ceto ini entry pointnya dimulai dari gang pertama di sebelah kiri pintu gerbang Candi.

Ada jalan lebar yang sudah diperkeras dengan semen. Di beberapa titik malah dibuat trap tangga.

Perlahan kami berjalan menyusuri sisi utara pagar tembok kawasan Candi. Sebenarnya ada pintu masuk lagi. Kalau kita masuk ke kawasan candi, di teras keempat, ada beberapa pendopo kayu. Di sisi kirinya ada pintu keluar menuju tempat pemujaan patung Saraswati. Sama saja. Akhirnya jalan setapaknya juga akan bertemu dengan jalur naik kami barusan. Begitu sudah ada sedikit diatas kawasan Candi, jalur semen akan berbelok ke kanan menuju tempat pemujaan patung Dewi Saraswati.

Tapi kami memilih untuk terus lurus. Ada papan penunjuk arah menuju Candi Kethek.  Dari sini jalannya berubah menjadi jalan tanah. Walaupun begitu jalurnya jelas sekali. Kami terus berjalan hingga lima belas menit kemudian kami sudah bertemu dengan sungai. Sungainya sendiri tidak terlalu dalam dan lebar, tipe sungai yang kering ketika musim kemarau tiba. Airnya saat itu (akhir februari 2010) hanya semata kaki tingginya namun jernih sekali. Jalurnya kemudian bersambung di seberang sungai dan terus menanjak ke arah kanan.

Jam 16.00 WIB Candi Kethek

Nah.. lima menit jauhnya dari seberang sungai ini. Kami jumpai sebuah candi. Candi Kethek namanya. Bentuknya menyerupai punden berundak raksasa. Disusun dari tumpukan batu yang ditata mengikuti bentuk kontur tanah. Ada tambahan mahkota raja yang bercat emas di puncak candi ini. Mungkin karena sudah sore dan perjalanan masih jauh saya jadi tidak tertarik menjelajah isi candi ini. Menyesal juga kalau dipikir-pikir. mungkin lain kali deh, khusus datang kesini untuk tour de candi. 

Kami lewat di depan candi ini mengikuti jalan setapak yang terus mengarah ke arah kanan. Kadang kami temui pipa air milik penduduk di sepanjang jalan yang kami lewati. Jalannya jelas sekali tapi licin karena lumut. Dengan beban berat kami memang harus ekstra keras bertahan agar tidak terpeleset dan jatuh. Apalagi jalur sering tertutup rimbun semak belukar di kanan kirinya. Kami harus menyibaknya untuk melihat jalur dengan jelas. Pasti jarang sekali orang lewat sini.

Kami berjalan dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Beberapa kali masih berjumpa dengan ladang penduduk. Dan ketika mulai masuk hutan pinus pun, pohonnya tidak begitu rapat. Masih ada pohon perdu di kanan kirinya.

Jujur, kali ini saya frustasi ketika melihat jalurnya. Seharusnya saya senang karena jalan setapak ini cukup landai. Tapi kapan sampainya? Hehehe… pos 3 target kami hari ini masih jauh. Tapi kalau dipikir-pikir sih, sebenarnya saya jauh lebih frustasi karena beban bawaan saya yang berat ini. Kerir yang saya pakai kali ini tidak nyaman di pundak saya. Saya menyesal menukarnya di detik terakhir ketika akan berangkat kemarin. Saya jadi tidak dapat menikmati perjalanan sore ini.

sedih deh..curhat lagi deh

Previous story : empat plus satu
Read more

catper trip lawu via ceto episode : EMPAT PLUS SATU

Terminal Tirtonadi, Solo Jum’at 26 Februari 2010 jam 09.30 pagi

Saya marah besar. Tiba-tiba saja Suwasti datang ditemani Kris. Kami berbisik-bisik di sudut warung yang ada di depan pol bus trayek Solo-Tawangmangu. Saat itu Joan sedang mandi dan Emma memandang kami tanpa sempat  mengerti.

“Maaf, Na.” desah Suwasti. Wajahnya lelah sekali. Bus Safari Dharma yang ditumpanginya baru saja merapat. Bus tua yang terengah-engah sejak dari Jakarta dan baru delapan belas jam kemudian tiba disini. Oh, mereka terlambat sekali.

Kris seolah tak mendengar pertengkaran kami. Dia sibuk mengepak kembali kerirnya di pojok warung, tempat saya, Joan dan Emma yang sepanjang pagi ini menanti kedatangan mereka berdua.

“Kenapa Swas?” kejar saya lagi. “Kenapa aku justu tahu dari sms Heri semalam” hihihi.. gaya kami kayak drama di TV aja.  Udara terasa kering, peluh mulai bercucuran padahal saya baru saja menumpang mandi di terminal ini.

“Kita masih satu team kan?” Sambil memandang bus tujuan Tawangmangu yang bolak-balik mengisi penumpang di hadapan kami. Dan berkali-kali menampik ajakan kernet bus untuk segera masuk ke dalam bus.

Saya kecewa sekali. Berbulan-bulan kami merencanakan perjalanan ini. Hingga akhirnya kami berempat siap berangkat. Saya, Suwasti, Joan dan Emma.

“Kris bilang, dia nggak ingin yang lain tahu kalau dia ikut” “Kenapa?” Saya menggeleng-gelengkan kepala. Mendadak kepala terasa pening. Aneh. Tiket bus sudah mereka beli sejak awal bulan lalu, jika mereka mau, ada banyak kesempatan hampir sebulan untuk memberi tahu kami.

Saya tahu Suwasti sedang dekat dengan Kris.  Tapi Kris teman saya juga. Untuk alasan apapun, nggak mungkin kami akan jalan sendiri-sendiri seperti yang dia minta. “Kita akan berangkat bersama-sama dan tentu saja pulang juga bersama-sama”

Tapi tak lama kemudian kemarahan saya reda dengan sendirinya. Sudah terlanjur, ah… malah justru lebih meriah karena ada tambahan satu orang lagi. Sementara Suwasti dan Kris sarapan, saya bergegas mengajak Emma berkeliling terminal. Kami berdua berbelanja nasi dan lauk untuk bekal makan siang dan malam kami nanti.

Saya juga sempat ngobrol dengan seorang pendaki yang juga mau naik ke gunung Lawu melalui jalur  Cemoro Kandang. Dia sedang menunggu teman-temannya dari Jakarta. Hmm.. tumben sepi cetus saya dalam hati. Biasanya harpitnas seperti hari ini, terminal pasti penuh dengan pendaki yang juga berpikiran sama seperti kami.

Dan satu jam kemudian kami naik juga ke salah satu bus tujuan Tawangmangu.
Next : episode bus armada sayur

(to be continued ... tapi kalau mau lihat foto-fotonya ada disini
di lawu kulewati hutan yang kelabu dalam hujan)
Read more

di lawu, kulewati hutan yang kelabu dalam hujan




Akhirnya saya kembali lagi kesini. Mungkin ini kutukan. Bahwa saya akan terus datang dan datang lagi. Dalam perjalanan turun, beberapa tahun yang lalu di pos 1 jalur Cemoro Kandang. “Sudah berapa kali kesini? “ seorang bapak bertanya. Tak seorang pun pernah mengajukan pertanyaan ini kepada saya.  Saya belum layak untuk menjawabnya. “Kamu pasti akan kesini lagi” lanjutnya lagi. Saya tertegun. Rasanya jauh disana saya dengar lagi lagu ini;

Februari 26-28 2010, menuju puncak Lawu melalui jalur cantik bernama Ceto. Menyeberangi sungai, mendaki gigiran bukit, melintas padang ilalang dan tenggelam dalam hutan kelabu. Special thanks untuk my hubby atas perijinannya ;) special thanks juga untuk David Mario Ardana atas obrolan n chattingnya untuk info jalur Cetho. Ini kali pertama bagi kami berlima. Terimakasih teman-teman terkasih.
Emma K.N, Dewi Joan Sibarani, Suwasti Dewi Anitasari dan Kris Hartanto. Terimakasih juga untuk puisi cantik: hutan kelabu dalam hujan, Sapardi Djoko Damono, 1968
Read more

lawu via ceto

Read more

cikuray .. anthem of the broken hearted




Seingat saya, terakhir kali ke Cikuray sudah lebih dari 5 tahun lalu. Tapi rasa sendu itu tetaplah sama. Saya nggak tahu kenapa. Tapi begitu mencapai puncak dan memandang matahari yang bersiap untuk tenggelam. Rasanya saya tahu. Rasa sendu yang saya rasakan sejak tadi, mendadak hilang bersama redupnya matahari.  Mungkin perjalanan ini memang sudah ditakdirkan begitu dan saya nggak perlu bertanya lagi. Karena ada saatnya bertemu sama halnya dengan saat berpisah. Ini nyanyian saya untukNya.

Cikuray, 2821 mdpl 8-9 august 2009 along with my dearest sista 
Emma K.N.  and Suwasti and this trip also was inspired by Anthem For The Broken from Slank, peace bro!! turun dari Cikuray ternyata ada penangkapan "Noordin M. Top" ihiks! Nggak nonton TV :(

Bis AC ekonomi Jakarta-Garut @Rp 35,000; angkot 06 Garut-Cilawu (turun di Dayeuhmanggung) @Rp 4,000, ojek Dayeuhmanggung-pemancar @ Rp 30,000; bungkus nasi @ terminal Guntur, Garut @ Rp 10,000; jalur dari pemancar hingga puncak cukup jelas nyaris tanpa bonus dan terus menanjak, waktu tempuh antara 7-8 jam. Sulit mencari air, jadi disarankan bawa air yang banyak ya. Jika banyak pendaki, tidak banyak lokasi untuk ngecamp di sekitar puncak
Read more

jauh sekali rumahmu (bagian 4)

Jumat 21 Maret 2008
Jangan anggap remeh divisi dapur umum ya. Ternyata, perlu perencanaan yang rumit dan ketat sekali. Gara-gara itu, aku dan Suwasti rela memanjangkan waktu masak kami demi niat bangun cepat dan berangkat lebih pagi. Pagi itu, nasi dihangatkan kembali oleh suwasti. Sementara aku menyiapkan minuman hangat. Dan mulai menghangatkan lauk.


Rupanya, rencana tinggal rencana. Mau curi start seperti ini atau enggak. Kami tetap berangkat pukul sepuluh pagi. Hahaha…. Ah.. sudahlah. Yang penting kami berangkat dengan hati senang dan penuh semangat. Itu yang lebih penting.
Baru saja kami akan pergi. Dari bawah, muncul 4 orang yang baru naik. Nafas mereka terengah. Kami berkenalan sejenak. Maaf ya. Terus terang aku lupa nama-nama mereka. Tapi aku ingat betul bahwa mereka adalah anak-anak SMA –yang kemudian baru aku tahu, mereka berasal dari SMA Tanjung Raja- baru kelas 2 dan 3. baru naik pukul 7 pagi tadi yang berniat ngebut langsung hingga pelataran. Dan segera turun. Karena hari Senin ada ujian tengah semester. 

Nah. Sejak itu kami berteman baik dengan adik-adik oi-oi kami. Kenapa disebut oi-oi? Ah… panggilan khas mereka ketika bertemu dengan pendaki lain. –termasuk kami diantaranya-. Mereka beristirahat sejenak di pos satu. Sementara kami melanjutkan perjalanan. Joko meminta barang-barang yang tidak kami perlukan. Untuk disimpan di salah satu daypack. Dan disembunyikan tidak jauh dari pos satu. Rupanya Joko lupa. Ia melaju dan terus berjalan. Sehingga Suwastilah yang menyembunyikannya di balik pohon tidak jauh dari jalur.

Perkiraan kami, tepat pada waktu makan siang, kami akan tiba di pos dua. Nasi sudah suwasti masak tadi pagi –ketika kami sarapan-. Sehingga, kami tak perlu berlama-lama di pos dua. Biasanya kalau break terlalu lama. Godaan untuk berhenti, tidur dan membuka tenda sangatlah besar. Kami tidak mau dong, terlalu lama di sini. Waktu juga tidak memungkinkan. Menurut perkiraan, jarak antara pos satu dan pos dua sekitar tiga jam perjalanan. Jalurnya jauh lebih sulit daripada perjalanan dari pintu rimba hingga pos satu.


Pos dua ada di ketinggian 2632m dpl. Kami harus naik sekitar 500 meter. “Ah… jauh sekaliiii”
Kami masih bersemangat pagi itu. Udara mulai relatif sejuk. Namun kami berempat cukup dipusingkan oleh jalur yang tak pernah ada bonus. Semakin curam. Yang kuingat, setiap pijakan paling tidak setinggi paha, pinggang dan kepalaku. Kami berjalan beriringan. Kadang-kadang, jarak antara kami cukup jauh. Tapi masih dapat melihat cover kerir masing-masing. Atau suara mpeg player Joko yang berjalan paling belakang. Terkadang, rombongan kami susul-menyusul dengan teman-teman oi-oi kami. Ah…
Read more

jauh sekali rumahmu (bagian 3)

Jam setengah sepuluh aku dan suwasti naik menuju truk. “Maaf yaaaa..!” pandangan mereka mengikuti kami. Mungkin pikirnya. “dasar ibu-ibu…. Belanja aja lama banget!”

Sambil tersipu malu, aku dan suwasti duduk di bangku depan. Dan truk pun mulai melaju pelan menuju pintu rimba. Tidak sampai lima menit. Tiba-tiba truk berhenti. “Kenapa Mas?” tanyaku heran. “ya disini tempatnya.” Di tengah kebun teh. Di tepi jalan berbatu. Hanya ada segerombolan sapi yang sedang merumput dan memandang kami dengan keheranan. (aku curiga mereka juga mencicipi sebagian pucuk teh deh). Beberapa sedang menyusup di sela-sela kebun teh.

“aaaah… tahu begini” rasa bersalahku semakin menjadi. Kalau tahu jaraknya sedekat ini. Sudah dari tadi aku persilakan teman-teman lainnya untuk lanjut daripada menunggu kami yang sedang transaksi ikan asin di kampong empat sana 

Maka, mereka pun berlompatan dari atas truk. Kerir di estafetkan dari sana. Ada sekitar 2 atau 3 regu pendaki. Yang paling jelas kelihatan sih, rombongan mahasiswa UNSRI. Yang mengantar adik pendaki mereka –satu orang wanita- untuk naik ke dempo. Tapi yang nganter, banyak banget ooooi…. ;) cowok semuaaaa…! 

Tak berapa lama. Truk pun berbalik dan pergi. “kalau mau ke gua. Ada di terusan jalan ini. “ Katanya sebelum pergi. Uang sebesar dua ratus ribu berpindah tangan. Dan tawaran, jika mau ia siap menjemput kami kembali disini. Sambil tersenyum simpul “Gimana nanti aja Mas” jawab Joko.

Sementara teman-teman lainnya mulai menyusur kebun teh. (yang aku duga) Pintu rimba terlihat tidak terlalu jauh dari sini. Jelas sekali. Ada batas antara kebun teh dan rindang pepohonan.

“Ugh! Jauh juga” kembali kami berbenah. Tambah berat saja ucapku. Setelah siap. Kami berhimpun dan berdoa. Dipimpin Suwasti. Ini perjalanan panjang kami. Semoga kami selamat dan selalu dalam lindungan-Nya. Amin!

Dari kebun teh, jalan terus naik. Sedikit berkelok. Tapi jalur jelas sekali. Suwasti dan Dotten di didepan. Aku dan Joko menyusul di belakang. Setengah jam kemudian aku sudah tiba di pintu rimba. Pintu rimba yang dimaksud sebenarnya hanyalah kesepakatan tidak tertulis diantara para pendaki. Biasanya adalah suatu tempat dimana dimulai jalur pendakian yang sebenarnya. Dan biasanya sudah mulai masuk hutan. Tidak ada lagi alat transportasi lain yang dapat mencapainya. Panas sekali. Belum apa-apa, keringat sudah mengucur dengan derasnya. Pintu rimba ini sudah ada di ketinggian 1818 meter. Nampaknya, setengah dari gunung ini sudah ditanami dengan teh rupanya.

Aku memotret tanpa selera. Kantukku menyerang. Semangat pun hilang. Pukul sebelas siang saat ini. Tujuanku hanya satu. Bisa mencapai pos satu segera. Aku mulai berhitung. Pos satu ada di ketinggian 2165 meter. Itu artinya, kami hanya naik kurang dari empat ratus meter.

Dua setengah jam kemudian.
Tadi aku mulai frustasi melihat jalurnya. Ungkapan pak Anton di bawah sana. Bahwa jalur dempo seperti ciremai. Salah besar. Ini jauh lebih sulit. Bayanganku akan jalur gede via putri. Atau cikurai via TVRI. Atau salak (jalur manapun ) musnah seketika. Jalurnya benar-benar menguras tenaga. Jalan setapaknya licin dan tinggi. Tidak ada cara lain yang kami lakukan selain merayap dan mengandalkan bantuan akar pohon yang silang-menyilang di sepanjang jalur. Kadang-kadang aku harus memeras otak bagaimana caranya melewati tanjakan yang buatku mustahil aku lewati.

Kami berjalan beriringan. Dotten yang biasanya termasuk orang yang cepat naik. Nampak kesulitan berdamai dengan jalur ini. Mungkin juga karena beban berat yang dipikulnya. Suwasti menyusul di belakangnya. Aku berjalan mengikuti jejak Suwasti. Dan terakhir Joko. Syukurlah karena samar-samar aku masih dapat mendengar suara musik pada mpeg player yang di perkeras dengan speaker milik suwasti. Alat itu ada pada daypack Joko.

Setengah tiga kami sudah berdiri berdampingan di pos satu. Menurut aku sih tidak begitu luas ya. Maksimal ada dua tenda ukuran nyaman yang bisa didirikan disini. Ada sumber airnya kok.

Kali ini satu tenda saja yang didirikan. “Emang muat?” tanyaku sangsi. Tapi walau begitu, tetap saja aku bergerak membongkar kerir. Joko dan Dotten memasang tenda. Begitu siap, aku dan Suwasti bergegas masuk untuk berganti pakaian.

Perasaanku mendadak cerah kembali. Dengan badan kering dan bersih. Aku membantu Suwasti menyiapkan makanan. Menu kami siang ini adalah (sebenarnya sudah terlambat jika disebut makan siang) nasi dan telur dadar yang tadi kami pesan dari pak Rohim di kampong empat. Aku goring ikan asin sepat. Aku potong irisan cabe rawit dan bawang merah kemudian dikucuri dengan kecap manis. Maka, voila..! jadilah sambal kecap teman makan siang kami kali ini.

Kami pun tambah bersemangat untuk meneruskan masakan. Ibaratnya dapur umum 24 jam terus ngebuuuuul!!!! Setelah makan siang. *yang pada prakteknya menjadi makan sore-sore* dan sementara para lelaki itu bebenah. Aku dan Suwasti mempunyai ide cemerlang untuk menghemat waktu dan tenaga. Maka, kami mulai memasak nasi dan lauk. Untuk makan malam sekaligus makan pagi. Berharap. Agar esok, minimal pukul delapan kami sudah siap untuk melanjutkan perjalanan.

Tenda pun menjadi nyaman sekali. Dan hangat. *tentu aja. Ada empat orang berhimpitan di dalamnya* Semua kerir *isi perlengkapan yang tidak dibutuhkan malam itu* dan sepatu. Serta dua kompor trangia. Kami simpan di teras tenda. Joko dan Dotten kemudian menutup rapat semua kerir dengan flysheet. Dan teras langsung ditutup. Jadi aman dari intipan binatang yang ingin turut mencicipi logistik kami. Pukul delapan malam kami sudah tertidur pulas. Menuntaskan kantuk dan lelah akibat perjalanan hari ini.
Read more
 

hujan, jalak dan daun jambu Design by Insight © 2009