catatan perjalanan : kerintji episode "pak ada rice cooker?"

Lalu setelah diselidiki lebih dalam… 

yaoloooooo….

Rupanya Lia jatuh tersungkur tepat di belakang saya. Lengkap dengan beberapa botol aqua besar dalam pelukannya. Berlatar wajah-wajah bengong tanpa ekspresi dari para lelaki yang sedang estafet menurunkan carrier. 

Saya menahan senyum.  Dilema. Antara mengeluarkan kamera .. atau menolongnya bangun. Hihihi…

Bang Alex menghentikan mobil tepat di depan homestay Subandi. Homestay ini letaknya tak jauh dari patung meong yang terkenal itu. 

Iya deh.. itu istilah saya aja. Yang bener.. tugu Simpang Macan. Kasihan sekali. Ia nampak sendirian ditengah kegelapan 

–dan kemudian baru saya sadari kalau di sekitarnya adalah lautan kebun teh- 

Di sepanjang jalan dekat patung meong ini, ada beberapa homestay. Sebut saja homestay Paiman yang sekarang dikelola oleh bu Paiman. 

Homestay ini terkenal sekali. Coba saja perhatikan. Setiap pendaki atau orang yang hanya sekedar pengen jalan-jalan di sekitar Kerinci, pastilah homestay ini yang direkomendasikan.

Tapi kami memilih homestay Subandi. Konon.. homestay ini justru direkomendasikan oleh turis mancanegara. 

Nah lo? Kenapa bisa begitu? Nanti deh ceritanya. Turun gunung nanti. Pasti Pak Bandi akan saya wawancarai.

Begitu masuk rumah. Terasa kehangatan datang dari dalam rumah. Rumahnya cukup luas. Memanjang dari utara ke selatan. 

Beberapa kamar berjajar rapi disisi barat. Di hadapannya berbaris ruang tamu, ruang makan,  ruang tv dan terus hingga dapur di belakang.

Beruntung pada saat itu penginapan sedang sepi. Tapi hari-hari didepan sudah penuh dipesan orang. Kami diberi dua kamar. Pas deh. Empat cowok, empat cewek. Semua carrier masuk ke kamar masing-masing. Sepatu-sepatu juga dimasukkan ke dalam rumah. 

Dan setelah itu semua sibuk dengan ritual masing-masing. Joko sih langsung ngobrol dengan pak Bandi di ruang belakang. 

“sambil nunggu sinetron wahyu!” hehehe.. ini sinetron favorit kami berdua. Sebenernya sih judulnya Pesantren n rock n roll.  

Berawal dari iseng-iseng nonton sinetron tapi akhirnya keterusan hingga sekarang. 
Walau sebenarnya kami lebih sering ditonton tv. karena kerap tertidur di depan tv  

Lalu bagaimana dengan yang lain? Ah… semua berebut mandi dan mencari stop kontak listrik. Maklumlah, semua HP, baterai kamera dan ipod butuh dicharge ulang. 

Saya hanya ingin segera mandi, makan dan langsung tidur. Besok kami akan berangkat pagi-pagi sekali. . 




“PAK… ADA RICE COOKER?”

Namanya juga go show. Jadi berita bahwa bu Subandi sedang ada di luar kota –dan tak ada yang biasa memasak makanan untuk tamu- dan berita bahwa kami harus menyiapkan makan sendiri -karena tak satu pun warung yang buka- adalah berita yang sudah bisa saya tebak sebelumnya alias pasrah..!!

“Kenapa tadi tidak mbungkus lauk saja ya” Sesal Pak John. 

“Untung tadi kita udah belanja logistik ya Mbak” sambung Lia.

Joko datang dengan laporan : semua warung nasi sudah tutup. Tapi dia membawa tambahan telur dan delapan bungkus bakso. Iya, hanya ada warung bakso yang bukaa sehingga bakso-lah menu makan malam kami saat itu.

Dengan cepat kami menghitung logistik kami. Air, telur, beras, tempe, bawang, minyak, mie instan.. semua lengkap. Wangsa menyumbang sayur mayur. Pak John juga menambahkan empal, kering teri dan rendang untuk logistic kelompok kami. Sip!!!

Tapi memang harus ada yang dikorbankan. 

Dan telur-telur kami nan lucu itu, terpaksa kami pecahkan untuk menu sarapan kami esok hari. 

Urusan beras.. tidak masalah. Pak Subandi memberikan berasnya untuk kami masak malam itu. 

Ah.. dilema emak-emak nih. Kalau bukan di dapurnya sendiri, rasanya gimanaaa gitu. Saya nggak hapal dimana gadget-nya diletakkan bu Subandi. Dimana panci, dimana keran air, pisau atau piring.  

Untunglah ada Lia dengan cekatan membantu saya di dapur. Dan Ivana yang membantu menggoreng dadar telur keesokan paginya. 

“Nah.. ini dia!” seru saya gembira ketika melihat panci rice cooker. Tapi mana rice cookernya? Hihihi.. kebiasaan masak nasi dengan rice cooker. Jadi sudah lupa caranya menanak nasi. 

Hari kedua, Kamis 21 april 2011 pagi

Kersik Tuo pagi itu diselimuti kabut. Gunung kerinci tak terlihat dari sini. Tanpa disuruh lagi kami semua bersiap dan mulai sarapan di meja makan.  

“Mbak.. itu piringmu” cetus Lia. Ada satu piring yang sudah berisi nasi dan potongan telur dadar yang dihiasi kecap manis.

“Tadi dititipin om eMJe. Katanya buat mbak Aries” Walaaaah.. co cuuuuiiiit…!!!! Akyu terharuuuu….

Mobil pick up carteran kami sudah siap di depan. Nama supirnya, Mas Hen. Masih ada hubungan saudara dengan pak Subandi. Kami mencarternya sekaligus untuk menjemput kami hari Sabtu sore lusa. Mobilnya masih baru. Di sela-sela orderan mengantar turis seperti kami ini. Tugas utamanya adalah mengantar sayur mayur ke Kota Padang. 

“Kenapa Padang?” kenapa harus ke propinsi sebelah? Apa di Jambi sendiri tak ada tempat? 

“Jalannya jelek, Mbak! “ keluhnya panjang. “Tapi kalo ke Padang, jalannya mulus. “ 

“ooooo”

 “Semua jalan di propinsi Jambi ini jelek semua. “ tambahnya dengan sebal. 

SIRUP KAYU MANIS, DODOL KENTANG DAN TEH KERINCI

Jam enam lewat duapuluh menit –ah.. tumben nggak terlalu ngaret 

semua masuk ke dalam bak mobil bersama ke delapan carrier kami. Saya dan Joko duduk didepan disamping pak kusir doooong.

Urusan perijinan pendakian, kami serahkan kepada Pak Bandi. Katanya, biar dia saja yang mengurus perijinan. 

Jadi kami tak perlu berhenti di R10. R10 ini adalah pos lapor TNKS bagi para pendaki yang hendak naik ke gunung ini. 

Lagi pula nanti kami juga akan melewati R10. Dan kata pak Subandi juga, sekarang di R10 sedang diduduki kopassus –aiiiiih.. istilahnya serem amat ya- Mereka juga sedang latihan di gunung ini. 

Dan memang benar, begitu kami lewat, ada beberapa tenda pleton dipasang di halaman belakang gedung TNKS.Sambil lalu saya ngobrol dengan mas Hen ini. Apa bisa dicarikan sesuatu yang khas dari daerah ini? Turun gunung terkadang kaki sudah terlalu lelah untuk berkeliling mencari oleh-oleh. Atau bahkan waktunya yang tak cukup karena kami terlalu lama di gunung. 

Mas Hen datang dengan satu solusi tepat. Aha..! Turun gunung nanti, dia akan siapkan oleh-oleh khas Kersik tuo. 

Saya langsung pesan delapan set berisi sirup kayu manis, dodol kentang dan teh Kerinci. Agar teman-teman tak perlu repot lagi mencari oleh-oleh. 

Pukul 7 tepat kami sudah ada di ladang. Sepertinya ada baliho gede disini, tapi hanya tinggal rangkanya saja. Nun jauh diatas sana, terlihat gapura gerbang selamat datang. Pick up-nya nggak berani naik kesana. Maklum … mobil baru  

Setelah foto-foto, beberapa dari kami pergi ke toilet alam dulu. –disini ivana nyaris jatuh karena tersangkut pagar kawat- lalu kami semua pemanasan bersama berlatar gunung Kerinci yang mulai tersibak oleh kabut. 

Betul juga, pemanasan itu perlu lho. Agar otot-otot betis, lengan dan semua otot terkait tak akan kaget karena kami akan melakukan aktifitas berat hari ini. Semoga lancar. 

Doakan ya!
Read more

catatan perjalanan : kerintji episode In a middle of nowhere ada sebuah rumah makan

BANG ALEX YANG GUNDAH GULANA

13.00 siang

Siang itu bang alex –sopir kami- menyetir dengan rasa gundah.

Di sela-sela curhatnya kepada Pak John yang duduk di depan, ia membagi kegelisahan hatinya. Ia tidak puas dengan sistem bagi hasil mobil carterannya. 

Saya, Joko dan Wangsa yang duduk di baris kedua, menguping dari belakang. 

Kami prihatin. Namun keindahan alam ranah minang ini segera menghapus rasa sedih itu. Dibujuk akan diberi tips dan makan bersama. Hatinya pun kembali riang gembira. 

Pukul satu siang itu. Kami resmi menuju Kersik Tuo. Setelah sebelumnya beberapa kali mobil dihentikan seperti di :

(1) pasar : untuk belanja tambahan logistik 
(2) toko bahan bangunan : untuk mencari spirtus –ini untuk bahan bakar kompor kami selama di gunung nanti- 
(3) bank mandiri : ini yang paling penting …haha .. spesial kami dedikasikan untuk Emma yang pusing tujuh keliling karena hari itu  adalah batas akhir untuk pembayaran tagihan di kedainya. 

Kersik Tuo akan kami capai dalam waktu sekitar 6-7 jam perjalanan lagi. 

Harap dicatat ya. Ini sudah rute tercepat karena jalurnya memotong bukit dan gunung. 

Umumnya orang menyebut jalur ini dengan jalur Padang-Sungai penuh via Muara Labuh. Jaraknya sekitar 260 km sadja. 

Bandingkan jika kami harus menyusur pesisir pantai selatan yang jarak tempuhnya sekitar 277 km atau Padang-Sungai penuh via Painan yang jaraknya sekitar 329 km. Ataaaaaau … siapa tahu ada yang berniat berangkat dari kota Jambi.  Yang jaraknya 458 km dan harus dibayar tunai dengan 11 jam perjalanan.  Ampun deh apalagi kalau ditambah dengan jalan propinsi yang rusak!  

Semua sudah kami lakukan. Melihat keluar. Melewati hutan. ngobrol. Tidur. 

Bangun. Melewati dusun. Ngemil. Tidur lagi. Bangun. Ngobrol. Denger ipod. 

Tidur lagi. Melewati hutan lagi, melewati sungai dan danau. 

Hingga kami akhirnya nyaris menjerit karena gembira. Karena kami berhenti tepat di depaaaaan………


RUMAH MAKAN SUNGAI KALU 

jam 15.30 sore

In a middle of nowhere .. ada sebuah rumah makan. Namanya Rumah Makan Sungai Kalu. 

Posisinya persis di kilometer 117 dari kota padang dan sekitar 20 km lagi menuju kota Muara Labuh. Sudah rahasia umum. 

Kalau kebetulan melihat banyak mobil dan truk parkir di depan rumah makan. Bisa dipastikan sembilan puluh sembilan persen -satu persennya mari kita sisakan untuk hal tak terduga yaaa…- makanan di rumah makan itu pasti enak dan muuuuurrrrraaaaaaaahhhhh… hahaha…! 

Ini rumah makan yang direkomendasikan Bang Alex. Menu andalan rumah makan ini adalah :

ayam kampung bumbu cabe hijau.  

Tahukah kalian…..potongan dada ayam kampung itu digoreng panas-panas dan dihidangkan diatas piring kecil. 

Ditambah dengan hiasan kentang goreng yang dipotong memanjang –kentangnya baru digoreng juga-, ditambah beberapa keping jengkol goreng –ini juga masih panas mengepul karena baru digoreng-, lalu ketiganya disiram dengan bumbu sambal cabe hijau. 

Tidak hanya cukup sampai disitu. Diatasnya kemudian ditabur bawang goreng yang kriuk kriuk gimanaaa gituuu….  Endang sekali! (dan saya heran, kenapa Pak Bondan belum datang kemari? )

Ya Tuhan.. tolonglah hamba, berat sekali godaan hidup ini.

Walau katanya menu utamanya hanya ayam bumbu cabe hijau ini.. tapi dia datang bersama teman-temannya. 

Ada belut goreng bumbu cabe hijau, ikan sungai bumbu cabe hijau, gulai ikan, gulai ayam, daging rendang, dendeng balado, ayam bakar, tumis buncis kuah santan, sup kambing panas, rupa-rupa lalap dan menu lainnya yang saya tak sempat saya ingat lagi saking banyaknya. 

Hoho.. makan dulu yaaaa…!

Satu setengah jam kemudian kami beranjak pergi. Hampir magrib ketika masuk kota Muara Labuh. 

Dan hujan pun turun. Hanya sejenak kami sempat meresapi kota kecil ini. 

Rumah-rumah gadang yang berkelebat cepat, para wanita dengan mukena yang bergegas  menuju mesjid, dan langit yang mulai redup. 

Lalu elf-pun melaju cepat.  Jalan berkelok sepertinya makanan sehari-hari untuk Bang Alex. Saya tidak bisa membayangkan seandainya kami sendiri yang harus menyetir mobil di daerah ini. 

Dalam gelap dan dentaman musik –isinya kompilasi lagu kesayangan bang Alex- mobil kami menyisir kelokan demi kelokan sempit yang menikung tajam nyaris membentuk leter U dan langsung disambung dengan kelokan berbentuk leter S. 

Kadang Menikung naik. Kadang menikung turun. Jangan ditanya deh, apalagi ketika hari gelap, sudah berapa kali saya memejamkan mata saking takutnya. Ada satu atau dua kali elf ini berhenti di tepi jembatan. Entah apa yang dilakukan bang Alex. Berhenti untuk mencari toilet barangkali.

“Lho? Kenapa justru di tepi jembatan sih? Apa nggak berbahaya?”  saya usil bertanya. 

“Justru ini tempat yang paling aman” sahut Joko dengan sotoy-nya. Karena jembatan 
yang memotong sungai ini, biasanya ada di lembah dan kontur tanahnya lumayan datar. 

Dengan keadaan seperti ini, mobil kami akan terlihat jelas oleh mobil yang datang dari arah depan maupun belakang “Bahaya sekali jika kita berhenti di kelokan jalan.”

“ooooooo…

KERSIK TUO YANG SENYAP

jam 8 malam

Bener-bener sunyi deh desa ini. Padahal baru jam 8 malam. Dingin. Dan sisa-sisa hujan masih turun. Tak ada keramaian. 

Toko-toko pun sudah tutup sejak tadi. Hanya ada lampu-lampu temaram di beberapa sudut dan derum kendaraan yang lewat sesekali. 

Tapi kenapa ada suara gedebuk terdengar di tengah kesunyian ini. Rasanya kok tidak match ya dengan suasana desa yang senyap ini. 

Hmmm….bulu kuduk saya mulai berdiri.

bersambuuuuung..
oiya... foto-foto bisa diintip disini: a road to kerintji
Read more

catatan perjalanan : kerintji episode pak John

Rabu 20 April 2011, Bandara Minangkabau, jam 09.00 pagi

CALO DI BANDARA

“lha? Sudah diputuskan toh?” tanya saya pada Joko. Demi melihat Pak John bergerak menuju shuttle bus Damri. “Apa kita naik Damri ?” tanya saya bergegas menyusul Joko. Joko hanya mengedipkan mata. 

Ah.. saya tahu maksudnya.Pak John terlalu emosi. Mungkin karena tidak siap menghadapi calo pagi itu dan merasa harga yang ditawarkan terlalu tinggi. Jadi ia putuskan sendiri untuk ke kota Padang dan mencari angkutan menuju Sungai Penuh. Biasanya ini tugas Joko.-Urusan ramah-tamah –mulai dari preman setempat hingga calo ternama-, mencari kendaraan dan tawar-menawar harga itulah keahliannya.  

Tadi sebelum mendarat disini, kami sudah saling berbagi tugas. Biarlah Joko yang bertugas sebagai negosiator, Ivana yang mengurus tiket pesawat dan Lia yang mengurus keuangan regu.  Yang lain … cukup jadi penggembira dan penari latar 

Tapi entah mengapa, pagi itu Pak John amatlah bersemangat. Dengan handycam di tangan ia memasang tampang garang dihadapan para calo yang menawarkan mobil carteran. Maka inilah kami. Delapan orang, delapan carrier, beberapa daypack, beberapa tas kamera dan beberapa kantong plastik isi belanjaan. Kami memang serombongan turis yang tak tahu arah entah kemana. 

Sebenarnya sih, niat kami memang akan mencari kendaraan sewaan di Bandara. Rasanya jauh lebih efisien dan menghemat banyak waktu jika dengan mobil sewaan ini langsung menuju desa Kersik Tuo. Di desa inilah entry point menuju pendakian ke gunung Kerinci. 

Nah.. Desa ini ada di Kecamatan Kayu Aro, kabupaten Sungai Penuh yang ada di provinsi Jambi.  Tapi bergerak kesana kemari dengan troly penuh barang, sungguh bukanlah tujuan saya. Tahukah kalian apa yang terjadi? Kami urung masuk bis Damri.  Lalu kami berbalik lagi ke ujung apron. Kali ini Pak John memutuskan untuk naik mobil carteran. Kami mencarter 2 mobil. Bukan ke Sungai penuh. Tapi ke kota Padang.  Aha!!!

Namun kekacauan ini, nampaknya tak sempat diperhatikan oleh Cecep –yang bahagia karena baru pertama kalinya menginjak tanah minang- Emma –yang kedua jempolnya selalu menempel di keypad BB- Lia –yang masih tak percaya bahwa akhirnya dia pergi juga kesini- Wangsa –yang dengan setia mendampingi pak John- serta Ivana –yang bertekad untuk membawa pulang keripik pedas Christine hakim yang terkenal itu- Sedang saya…. –setengah mati menahan lapar karena tadi belum sempat sarapan-

Lalu… akhirnya dua mobil beriringan meninggalkan Bandara Internasional Minangkabau. Saya tak tahu apa yang terjadi di mobil depan. Yang malah belok kanan dan masuk menuju rumah makan padang. RM. AMPERA BUNGO LANSANO. 

Waaaa… ini dia yang saya tunggu-tunggu dari tadi. 

Makaaaaaan….!!!!!

Tapi sebelum saya lanjutkan kisah ini.. tidak ada salahnya jika saya ceritakan sejenak teman-teman seperjalanan saya kali ini. Setelah berbulan-bulan sebelumnya berburu tiket, berbulan-bulan mencari informasi, berminggu-minggu bongkar pasang pasukan, berhari-hari sedih karena beberapa teman batal ikutan, akhirnya inilah kami, delapan orang yang cukup ‘gila’ untuk ngetrip ke gunung Kerinci, 20-25 April 2011 lalu. Dan mereka adalah :

(1) R. Joko Sutias, dia suami saya tercinta. Setelah bertahun-tahun gantung kerir dan membiarkan saya ke gunung sendirian, akhirnya mau juga dia menemani saya pergi ke Kerinci tahun ini. 
“Tapi hanya sampe homestay aja ya Hany”-ini nama panggilan sayangnya untuk saya- “Saya nunggu disana” Huuuuuu !!! Tapi mungkin karena tak tega melihat saya dia pun mulai giat berolahraga. Nah.. dengan begitu, target bisa sedikit dinaikkan dong ya? “Iya deh.. saya nunggu di pos satu saja!” sahutnya sambil nyengir. Kwaks!!!

(2) Deni Wangsa, ini teman lama saya. Saya kenal Deni waktu kami gabung di salah satu mailing list medio 2005 lalu. Setelah itu baru saya tahu kalau Deni ternyata teman lama Joko juga. Sejak menikah dengan Nani dan memiliki seorang anak perempuan yang lucu dan menggemaskan itu,  kami sudah jarang juga jalan bareng. Sekarang perutnya tambah ndut.  Terakhir naek gunung bareng .. waktu saya dan Joko ngetrip ke Argopuro. Whah… sudah bertahun lalu itu.

(3) John Charles Kesaulija. Yang lebih sering kami panggil dengan Pak John. Pertama kali saya ketemu dengan pak John sekitar tahun 2004 lalu di Tumpang. Rombongan saya dan rombongannya pak John berbagi carter jeep menuju Ranupane. Entry point sebelum pendakian menuju Semeru. Sudah bisa ditebak, akhirnya kami jalan bareng. Dan sejak saat itu, kalau waktunya cocok, kami naek gunung bareng. Setelah bertahun-tahun tak berjumpa, tumbennya.. beberapa hari sebelum ke Kerinci, Pak John menghubungi Joko. Pucuk dicinta ulam tiba.. ada tiket salah seorang peserta trip yang batal. Pak John pun.. ikuuuuut!!!!

(4)Emma Kusumaningsih alias Emma. Lumayan sering juga jalan dengan ibu yang satu ini. Mungkin karena waktunya klop dan ada kecocokan juga di hati kami berdua –hehehe.. ini sih saya yang GR-.  terakhir kali jalan bareng Emma kalo nggak salah ketika edisi mengantar Susan ke Pangrango akhir tahun lalu. –inget ya mak?- Awal kenal Emma juga melalui dunia maya sekitar 6 tahun lalu. Setelah bertahun-tahun saling mengomentari blog masing-masing. Dua tahun kemudian kami sempat jalan bareng ke Baduy.  Waktu itu kami jalan berlima. Dan salah satunya adalah dengan …

(5) Yusuf Fajarudin, tapi telinganya jauh lebih tegak berdiri jika dipanggil dengan nama Cecep. “Kok Cecep?” Padahal sih asalnya dari Jogja asli. Itu ada kisahnya tersendiri. Namun saya kenal Cecep juga dari dunia maya. Dari salah satu social network yang lagi booming waktu itu. Awalnya dulu hanya saling pantau saja.  Dan kemudian pertama kali jalan bareng ya waktu ke Baduy itu. Tapi baru sekali ini saya ketemu orang yang begitu ‘gila’ dengan warna merah. Baju merah, celana merah, hingga sepatu pun merah. Saya curiga… jangan-jangan.. bajunya hanya satu itu .. hahaha.. (piss ah Ceeep!)

(6) Ivana Noor Winahyu, Ivana saya kenal juga dari Cecep. Dia adik kelas Cecep di kampusnya. Akhir tahun 2009 lalu, saya dan Joko sengaja touring dengan motor hingga Jogja. Cecep baik banget deh. Dia mengijinkan kami menginap di rumahnya. Ivana pun ikut sibuk menjemput dan menemani kami. Waktu ke Guntur  tahun lalu, saya belum kenal betul dengan Ivana. Hanya saja akhirnya baru saya tahu setelah trip ini. Ternyata, anak ini.. gembul sekaliiiii hehehe.. dan ada satu kesamaan saya dan Ivana. Ternyata kami berdua sama-sama fans berat-nya Briptu Norman ..hahaha…

(7) Yunita Lianingtyas, alias Lia.  ini pendakian perdananya. Keren ya? Pendakian perdana dia langsung ke 3805 mdpl. Jujur, mulanya saya ragu. Apa Lia mampu. Apalagi tak seorang pun yang kenal dengan dia. (catatan : Dia ikut trip ini juga atas ajakan temannya yang rupanya batal ikut) Di hati kecil saya, saya takut nanti akan menyulitkan Lia sendiri -dan kemudian menyulitkan teman-teman lainnya- 
Tapi ternyata saya salah besar. Ternyata Lia mampu kok dan yang penting dia punya daya juang yang cukup tinggi. Ditambah dengan modal jogging 2 kali seminggu di senayan. Lia ternyata sanggup menuntaskan pendakian perdananya. Walau dengan catatan … “Untuk berbulan-bulan setelah ini.. gue nggak akan naik gunung dulu ya. mbaaaaak” 

(8) Dan saya sendiri, Ariesnawaty…  cukup berbahagia untuk mempersembahkan sedikit catatan perjalanan kami kali ini.


BERGANTI KENDARAAN

Jam 10 pagi

Barangkali ini efek samping dari sepiring nasi yang disiram dengan kuah gulai ayam, potongan dada ayam goreng pop, sedikit bumbu rendang dan sambal hijau lengkap dengan irisan mentimun. Lalu terakhir brunch ini ditutup dengan sempurna oleh segelas kopi panas ….Ambooooy…. 

Terlalu sibuk dengan dada ayam yang sangat menggoda itu, saya jadi lengah untuk mengikuti perkembangan yang terjadi di luar sana. Tapi akhirnya kami semua tahu, kalau saat itu haluan telah berubah. Kedua mobil carteran tadi, urung mengantar kami ke kota Padang. Sang calo, akhirnya kembali menawarkan kembali mobil elf untuk mengantar kami ke Kersik Tuo. 

Dibantu Joko, Cecep dan Wangsa. Akhirnya luluhlah hati Pak John. Berdiskusi sejenak. Lalu jadilah kami gunakan elf itu. Kini kami kembali ke jalan yang benar. 

Jam setengah dua belas siang, kami sudah duduk manis dalam elf trayek padang-sungai penuh.  


Bersambung -kalo sempet ditulis lanjutannya -
Foto-foto bisa diintip disini: a road to kerintji
Read more

road to kerintji




ini mimpi saya sejak bertahun lalu. …..



Ribuan terimakasih untuk suami tercinta dan teman-teman seperjuangan… Joko, pak John, Lia, Emma,  Cecep,Wangsa dan Ivana ...nanti kita kemping bareng lagi yaaaa….  

-BTR, seminggu kemudian. siang bolong 14.15 wib dan kucing-kucing yang tidur terlentang kegerahan- 
Read more

gunung Pulosari (1346 m dpl) 21 - 23 Januari 2005 episode : "Paparazzi "

Semua menoleh kepada Ika. Kamera analognya sedang melakukan ritual rutin. Menggulung film secara otomatis begitu sudah mencapai nomor 36.Serentak kami semua terkekeh geli.

Sementara itu matahari kembali tertutup awan. Yanto murung mengingat gagal usahanya. Hanya mendapat satu frame akibat butuh waktu untukmenukar lensa kameranya dengan lensa pinjaman *milik Kris* Semuamenepuk-nepuk pundak Yanto. Turut berduka cita.

Hingga jam setengah tujuh malem, kami masih setia menanti. Tapi apadaya. Emang cuaca nggak bisa di prediksi. Begitulah, kami para sunsethunter berjalan lunglai, beriringan kembali ke tenda.

“Besok pagiiii!!! Jangan lupa! Para paparazzi. Kita berkumpul lagi.Sunriseeee!.. Sunriseeee!!! Jam 5 subuh udah stand by! Okeh ??!!!”kataku mengingatkan.

Jam 10 malam. Barbeque time!!!

Sudah pada rapi jali. Udah makan malem. Udah kenalan sama tetangga, yang lagi rame ngegitar dan nyanyi lagu-lagu top forty. Angin menderu-deru datang dari kawah di lembah.

 *jadi kepikiran, orang yang pada ngecamp dikawah. Lebih dingin lagi kali ya?*Sedang kami berdelapan, duduk menunggu jatah. Kris sedang membuat dendeng panggang di atas api unggun *kayu bakar, di sumbang sama tetangga sebelah* 

Sementara Yanto, yang rencananya mau bikin buku kumpulan puisi, sibuk mencatat semua kata-kata mutiara yang kami lontarkan di sela-sela obrolan dan kunyahan dendeng panggang kami.

bunga mawar bunga melati”
“terus?”
“buah mangga buah kedondong”
“terus?”
“kagak nyambung dong!”
"enak juga ya dendeng-nya?"
"????!!!"
“Cateeeeeet!”

Sesekali aku masih melihat kerlip lampu dari dusun di bawah sana. Juga senter yang disorotkan dari temen-temen yang ngecamp di kawah. 

Bulan cukup terang. Kerlip bintang menemaninya. Sementara angin, terus menerus naik dan berputar disini.

Ngantuk!

Heri sudah menghilang dari tadi, alasannya Cuma satu :

“angin kan lagi gede. Biar tenda nggak terbang kebawa angin, makanyaharus dikasih beban. Yaaa…badan gue!”

*huuuuu…..bisa aja cari alasan*

Satu persatu mulai undur diri ke dalam tenda. Istirahat dulu.


Minggu, 23 Januari 2005Jam ½ 6 subuh

“Ries! Bangun!” Ida yang tidur di sebelah sudah menepuk-nepuk lututku.
“Katanya mau nunggu sunrise?” 
“hah? Angin gede begini?“ 

jawabku setengah mengantuk. Angin cukup kencang. Menampar-nampar tenda. Mengguncang tenda. Untung terpasak cukup kuat. Kalo enggak, udah terbang tuh! Serem juga sih. Didalem tenda aja kayak gini. Apalagi diluar.

“liat aja dulu.” Kata Ida. 

Melihat jam. Udah jam setengah enam pagi. Wah, kalo mau ngejar sunrise,udah kesiangan nih. Mengintip keluar, uh ..kabut!!! Ida kami utus untuk keluar. He..he.. perwakilan. 

Mengingat kondisi alam seperti ini. Jangan harap deh bisa lihat matahari. Tunggu punya tunggu, Ida rupanya nyangkut di tenda tetangga yang udah masak air dan minum teh. Aku dan Ika pelan-pelan keluar dari sleeping bag. Shalat subuh. 

Kemudian Ika menyiapkan trangia. Kami sarapan dulu deh.Begitu keluar tenda. Kenalan dulu dengan Iyat, Rudy dan Agus. (tigatemen Faisal yang beryuhuuu yuhuuu itu lho. Masih inget kan?) Mengamati Kris yang sedang memasak. Sementara Faisal dan Yanto terengah-engah*koreksi : Yanto yang terengah-engah itu ..* membawa beberapa botol agua berisi air.

“ambil air? Dari mana?” tanyaku.

*sambil membungkuk menarik nafas, Yanto berkata 

“ kira-kira 100 meterdari sini turun. Ada cerukan berisi air. Ada 2 selang kecil. Air diambildari selang tsb.”

Penasaran. Pengen liat. Dianter Faisal, Rudi, Agus dan Iyat.*rombongan!!* aku, Ika dan Ida turun. Jalur turun ada disisi selatan.Turun beberapa puluh meter. Nggak sampe 3 menit. Sumber air ada di sisi kanan jalur. Persis seperti yang digambarkan Yanto. 

Sambil menunggu giliran. Ida pergi untuk ritual pagi. Faisal ngobrol sejenak dengan trio Iyat, Rudi dan Agus. *Catch up! menyamakan persepsi*

Iyat : “ini pertama kalinya saya lewat jalur tengah itu” *catatan :merambah tebing di sisi timur kawah* (Agus dan Rudi cuma nyengir)

Iyat : “ ketemu cewek. Di tinggalin ama temennya. Bener-bener deh.”
*maksudnya keterlaluan gitu* 

“yaa.. terpaksa. Saya temenin dulu” (Agusdan Rudi tersipu malu)

Faisal : “ Oh ..jadi gara-gara nungguin cewek itu. Lo sendiri jadinyaninggalin temen loe?” (Agus dan Rudi lagi-lagi tersipu malu, catatan :ditinggal Iyat di jalan)

Sementara aku menatap takjub pada sumber air itu. Persis ada diantara akar kayu. Membentuk suatu ceruk kecil. Saking kreatifnya, anak-anak disini membuat dua selang kecil. 

Sempet ngobrol dengan pendaki yang ada disana. Katanya kalo musim kemarau, air tetap mengalir. Cuma karena sumbernya resapan hujan dan dari akar pohon, jam 6 pagi nampung air jam 9 pagi baru terisi satu botol kecil aqua.

Setengah jam kemudian balik lagi ke markas besar. Rada ringan nih!Kayaknya ilmu meringankan tubuhnya sudah tinggi *jelasss.. nggak pakebeban*Suasana di markas sudah jauh lebih ceria. Masakan sudah jadi. Nasi plus goreng dendeng dan ketan goreng *hasil jarahan dari kos-nya Faisal*olahan brother Kris memang lezat. Ditambah pepsi blue milik Faisal dan rujak mangga yang diracik oleh Ida. 

Kami semua ber toast!!!

Sementara tetanggga kiri kanan sudah bersiap dan pamit hendak turun.Kami masih berkutat dengan acara foto-foto *agaiiiiinnn!!!* Ika masih membuat pas foto kami masing-masing di puncak.

Jam 10 pagi

Kami sudah siap packing. Tenda sudah dibongkar, sampah sudah dikumpulkan. Sudah dandan. Dan bersiap turun. Thanks God! Buatperjalanan yang seru dan indah ini.

Tamat

Serpong, 3 Februari 2005

dibuang sayang :

Priiiittt!!

Lagi-lagi suara sempritan Ika.

“kagak liat apa’ kita lagi ngapain?” tanya Kris. 

(catatan : dalamperjalanan turun. keril 85 liter. Berusaha turun. Tangan meraba-rabamencari pegangan. Kaki menggapai mencari pijakan.)

“iyaa.. emang kita lagi ngapain?” tanyaku kemudian. (catatan : kakimenginjak batu, salah posisi. Juga Mengapai-gapai mencari pijakan.Memindahkan kaki.)


catatan :
§ Tiket masuk terminal luar kota Kp. Rambutan @ Rp 200
§ Tiket bis Kp. Rambutan – Merak : @ AC (Rp 15.000) AC 2 – 3 (Rp12.000) non AC (Rp 10.000)
§ L-300 Terminal Serang – Gorda @ Rp 2.000
§ Toilet di terminal (Serang dan Kp. Rambutan) @ Rp 1.000
§ Carter angkot dari Gorda ke Cilentung total Rp 120.000
§ Ojek dari ds. Cilentung s.d entry pendakian @ Rp 2000
§ Tiket masuk gn. Pulosari @ Ro. 1500
§ Carter angkot dari Cilentung ke Terminal Serang Rp 80.000
§ Sarapan + kopi di Cilentung (untuk 8 orang) total Rp 14.500
§ Nasi bungkus+telor ceplok+garem+cabe (untuk 8 orang) total Rp15.000
§ Pisang goreng di Curug Putri @ Rp 500
§ Kopi di curug putri @ Rp 2000
§ Angkot dari terminal Serang jurusan Labuan; turun di Mengger @Rp 5.000
§ Angkot dari Mengger ke Desa Cilentung @ Rp 4.000 s.d. 5.000Kalo dari terminal serang, naek angkot jurusan labuan. Turun di Mengger.(ongkos @ Rp. 5000) Terus ganti angkot yang ke arah cilentung (ongkosRp. 4000 s.d Rp 5000) di ds. Cilentung menuju entry pendakian bisalanjut pake ojek (ongkos @ Rp 2000) atau jalan kaki (kl. 15 menit) danbayar retribusi pendakian ke pulosari @ Rp 1500

Info pos :

cilentung (+- 150 m dpl) - curug putri 1 s.d 1,5 jam
curug putri - kawah 1 s.d 1,5 jam
kawah - puncak bayangan1 s.d 1,5 jam
puncak bayangan - puncak 15 menit

Info jalur :

Cilentung - curug putri : entry point di sebelah warung, ada papanpenunjuk arah; jalur cukup landai, kebun penduduk; sebelum curug akanbertemu dengan pondok, ada parit di sisi kiri, lewati aja

Curug putri - kawah : di curug ada pondok, jalur ke puncak ada di depanpondok, melewati parit. jalur cukup landai, sesekali tanjakan, kebundan sawah tadah hujan; bisa buat ngecamp, 

Jalur dari kawah menujupuncak, ada di sebelah kanan kawah (arah selatan); jalur terjal, batu,akar dan tanah licin. vegetasi rapatKawah - puncak bayangan : puncak bayangan berupa dataran sempit, openarea. Selanjutnya ada percabangan dan batu penanda km. Belok ke kiri; ;jalur terjal, batu, akar dan tanah licin. vegetasi rapat

Puncak : bisa buat ngecamp, berupa dataran sempit memanjang arah utaraselatan; beberapa pohon dan semak ; ada menara sensor dan pemancar gempaInfo sumber air:Di curug :banyak!!!di kawah:ada aliran air. Kecil; di sisi kanan kawah, rasanya sedikitasam Di puncak : ada di sisi selatan. Turun kl 50 meteran. Ke arah jalurSeketi.; sumber air berupa cerukan sebesar 50 x 50 cm; dibawah pohon,berupa resapan air. Tidak disarankan bila musim kemarau.


PULOSARI - BANTENGEOLOGYThe Quaternary G.Pulosari volcano lies 15 km south of the caldera atDanau Danu, NW Java Island, and about 120 km west of Jakarta. G.Pulosariis one of four volcanoes which erupted after the caldera collapse atDanau Danu and from their morphologies only G.Karang had youngervolcanic activity. Refer also to the geology sections in the Danau Danuand G.Karang prospects.A solfatara filed occurs in the summit crater of G. Pulosari and thesteam is escaping in this area at temperatures up to 121°C. A smallamount of sulphur is being sublimated. Low flow, acid springs are alsopresent with temperatures of 93 - 95 °C. However one spring in thiscrater is 25°C. An increase in activity at the crater was reported in1939 when the maximum temperature found was 93°C. Slightly acid, warmsprings (51°C maximum) emerge from the NW and SW fluks of the volcano.NW-SE and NE-SW structural trends are again dominant at Pulosari as theyare in the adjacent Danau Danu and G. Karang prospect. The summit craterand solfatara field are situated close to the intersection of faultswith the above trends. The springs to the NW lie on a NW-SE fault, andthe summit and SW springs are aligned parallel to the NE-SW trendingfaults.The geological evidence suggests that a geothermal resource of limitedpotential exists in this area. It appears to be associated with theandesitic volcanism at G. Pulosari.GEOCHEMISTRYThe region labelled the Banten geothermal area covers an approximatearea of 1200 km2. Three major topographic features dominate it :G.Pulosari to the south, G.Karang to the NE of G.Pulosari, and the DanauDanu lake to the north of both of these features. The lake lies within acaldera in the G.Gurang complex of altered ground. Groups of geothermalfeatures appear to be associated with each topographic feature.Close to the summit of G.Pulosari (1045 m.a.s.l.) there are two hotsprings and one cold spring, containing steam heated and/or local groundwaters. A steam vent with vapour at 121°C is also present. To thesouth-west of G.Pulosari (on its lower slopes) lie the Kadupaiongsulphate-bicarbonate springs which are possibly a mixture of an outflowfrom the Pulosari system with local ground water. The springs at highand low altitude are all of low flow (<0.5 kg/s).Only one full spring analysis is available on the Kadupaiong springs andestimates of the prospect potential are unreliable even thoughtemperatures are probably high. This prospect may have a small tomoderate power potential.GEOPHYSICSA considerable amount of geophysical exploration has been carried out inthe Banten area. This is partly due to the lack of clear surfaceevidence of a geothermal reservoir at depth, and broad areas of very lowresistivity which cannot be obviously related to the existing thermalmanifestations. Three phases of M.T. surveying have been carried ouit :BEICIP (1979), GEOCO (1983) and GEOCO (1986). The last survey is stillbeing interpreted. Various Schlumberger resistivity surveys have alsobeen made, the last of which are still being interpreted at the time ofwriting. A gravity survey is also still being interpreted.The earlier exploration work was concentrated in the south of theprospect, around G.Pulosari, which has the hottest thermal features(120°C fumarole in its crater), and on the southern flanks of G.Karang(80-94°C solfatara near its summit and 60°C springs at Citaman about 7km further south). As a result of this work, a deep well, BTN-1, wasdrilled about 5 km south of the summit of G.Karang. The total depth was2.3 km, and the maximum temperature was at the well bottom, with aninferred temperature of around 140°C. A stable temperature profile(since drilling) has not yet been measured.Subsequent exploration has concentrated on the northern flanks ofG.Pulosari and G.Karang, and in the vicinity of the caldera Danau-Danu,and G.Merek further north. There are several locations of warm-hotsprings (max. temp. 60°C) in this area, some with flows of up to 20kg/s.Because the geophysical interpretation of this northern area is not yetcompleted, a preliminary interpretation using only the 1983 and 1986GEOCO M.T. data has been made for this evaluation. The results for thetwo surveys were combined by compiling an apparent resistivity map fromthe T=3 second data. The combination of the two M.T. surveys isessential so that the results of the well can assist interpretation ofthe whole exploration area.A feature of the apparent resistivity map is the very low resistivity ofover large areas. There are broad anomalies with an apparent resistivityless than 2 ohm-m on the southern flank of G.Pulosari (>50 km2), aroundthe west of D.Danu (>75 km2) and north of G.Karang (possibly >50 km2).In all 3 areas, the low resistivity anomalies appear to extend beyondthe edge of the survey data. It seems most unlikely that such largeareas of uniformly low resistivity are due to hot, conductive fluid.Tertiary sediments are known to underlie the volcanics in this area, andin the BEICIP geological report a theoretical vertical section, whichsuggests marls should be common below about 1 km depth, implies lowresistivity. South of Pulosari these sediments apparently outcrop.In the deep well BTN-1, the dominant lithology was simply logged asargillic-altered, andesite and tuff breccia. The 3-second apparentresistivity in the vicinity of this well is 3-5 ohm-m. Since thetemperature below 1 km depth is of the order of 100°C, and the chloridelevel measured in the drilling fluid was the order of 1000 ppm, the lowresistivity is probably a consequence of all 3 factors (elevatedtemperature, pore fluid conductivity and matrix conductivity). Ratherthan indicating higher temperature or more conductive pore fluid, thebroad areas of even lower resistivity (1-3 ohm-m) are probably caused byan increased clay content in the rock (because of the absence of activethermal features here suggests the low resistivity does not have athermal origin). Whether the increased clay content reflects a change inrock type (i.e. sediment) or increased alteration, cannot be ascertainedfrom the available data.In the vicinity of D.Danu, the thermal springs of Batukuwung, Cipirut,Citasuk, Citiis, Jumpari, and Jumungkal are all in areas of slightlyincreased resistivity (2-10 ohm-m). Similarly the fossil alterationzones at Wangun and Garung are also in areas of increased apparentresistivity (3 and 10-15 ohm-m respectively). The case of G.Garung, verylow resistivities occur at short periods (0.1 s) which are consistentwith a shallow, localised zone of alteration. D.Danu caldera has astrong gravity expression (amplitude maximum of -15 mgal). Many of thethermal features in the area are situated in the region of steep gravityaround the flanks of the caldera.A consensus based on all the M.T. data, the results of BTN-1, and thetype of thermal activity in the area suggests that no large, hightemperature reservoirs are present. Local, high temperature zones may bepresent beneath the summit areas of G.Karang and G.Pulosari. Few, if anyof the springs in the Banten area are now precipitating silica; thesprings are predominantly bicarbonate in character, and judging from thefossil of solfataras, and an old sinter sheet in the vicinity of Wangun,thermal activity was much more intense in the past. The broad areas oflow resistivity, presumably due to rock with a high clay content, meansthat the resistivity method is not very sensitive to lateral temperaturevariations at depth in this area. Both active solfatara areas arerelatively inaccessible, and neither appears to have a major outflow.There may be a minor outflow from G.Karang beneath its eastern flank.There was probably once a very active geothermal system in theBatukuwung-Wangun area, but there is little evidence to indicate whetheror not high temperatures still exist at depth. The local gravity high(~10 mgal) which extends west from the zone of thermal activity nearBatukuwung could be a consequence of densification as a result of thepast outflow of thermal fluids. The available data does not appear tosupport a further deep well in this area. However if there is a highdemand for electricity generation in the Banten area, then anintermediate depth well could be considered. This will have a higherthan normal risk of failure, and if acceptable, the well should eitherbe located on top of, or on the east flanks of, G.Karang (around GEOCOM.T. station 137). The well should not be deeper than 1000 m, and shouldbe aimed at detecting a deep temperature gradient which may be able tobe extrapolated to greater depth.REFERENCESAlhamid,I., O.Razali,U., Pekar, L., 1975. Geophysical Report on Banten.Pertamina Report.BEICEP, 1979. Geothermal Study, Banten area. Report for Pertamina.Ganda, S.A., and Suroto, 1981. Pendugaan daerah prospek panasbumi daerahCitaman - Banten. Unpublished Report, Divisi Geotermal, Pertamina Pusat,Jakarta.GEOCO, 1983. Magnetotelluric Survey for geothermal exploration in GunungPulosari Area (West Java-Indonesia). Report for Pertamina.GEOCO, 1986. M.T. Study in preparation. Report for Pertamina.Idrus Alhamid, 1981 , Laporan Penyelidikan Panas-Bumi Survai TahananJenis daerah Citaman-Pulosari, Banten. Pertamina Report.Kyushu Electric Power Co.Inc., 1975. Reports on Banten GeothermalSurvey. Parts I, II. Report for Pertamina.Mulyadi, 1985. The geophysical Investigation of Banten Thermal Area,West Java. Proc. 7th N.Z. Geothermal Workshop, 1985.P.T.Geoservices, 1985. Pengamatan gempa mikro di daerah Pandeglang(Banten), Jawa Barat.Gunung Pulosari - Pusat Peradaban Masa Lalu BantenGUNUNG Pulosari telah lama dikenal. Dalam sejarah Banten dikatakan SunanGunung Jati dan Hasanuddin melakukan perjalanan dengan tujuan ke GunungPulosari yang menurut Sunan Gunung Jati merupakan wilayah BrahmanaKandali. Di atas gunung itu hidup delapan ratus ajar-ajar yang dipimpinPucuk Umun. Hasanuddin diberitakan konon tinggal bersama mereka selamasepuluh tahun lebih.Keberadaan Gunung Pulosari yang dipercaya sebagaisalah satu gunung keramat diperkirakan telah muncul jauh sebelumberdirinya Kerajaan Banten Girang yaitu kerajaan yang bercorakHindu/Buddha sebelum berdirinya Kesultanan Banten Islam. Berita-beritadari beberapa pakar kepurbakalaan seperti Pleyte mengisahkanSanghyangdengdek berdasarkan sumber cerita Ahmad Djayadiningrat padatahun 1913 dan NJ Krom dalam Rapporten van der Oudheikundingen Diens inNederlandsch Indie tahun 1914 menyatakan pula bahwa di seputar KabupatenPandeglang ada peninggalan arkeologi berupa arca nenek moyang. Salahsatu arca yang dimaksud adalah patung tipe polinesia di Tenjo(Sanghyangdengdek). Gambaran Gunung Pulosari sebagai gunung keramatdiperoleh pula dari keterangan Claude Guillot bahwa di DesaSanghyangdengdek, Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang terdapatpemujaan lama yang menyandang nama dewa. Tempat pemujaan tersebut sudahlama dikenal berupa batu berdiri yang tingginya kira-kira satu meter danpuncaknya dipahat sederhana dan kasar berbentuk kepala, mata bulat,mulutnya hanya berupa goresan, telinganya dibuat hanya tipis sederhanadan hidung tidak nyata, lengan-lengan dan kelamin lelaki kelihatan pula,tetapi hampir tidak menonjol. Tidak hanya itu. Keberadaan GunungPulosari yang dikenal sebagai gunung keramat dapat dikatakan sebagaisalah satu pusat peradaban masa lalu di daerah Banten. Pernyataan initentunya didukung bukti-bukti peninggalannya. Kira-kira empat kilometerdari Sanghyangdengdek di atas bukit Kaduguling tepatnya di perbatasanDesa Sukasari dan Desa Bongkaslandeuh, Kecamatan Menes, KabupatenPandeglang terdapat kompleks megalitik berlanjut yang disebut BatuGoong-Citaman. Hasil penggambaran Direktorat Purbakala tahun 1999,tampak situs Batu Goong adalah punden berundak yang merekayasa bentukanalam. Bukit Kaduguling sebagai bukit tertinggi di seputar situs,posisinya tepat berada pada garis lurus ke Sanghyangdengdek berorientasike puncak Gunung Pulosari dibentuk pelataran-pelataran bertrap-trapmakin ke timur makin tinggi menjadikan bentuk memusat ke belakang. Ditempat tertinggi itulah ditempatkan Batu Goong bersama menhir. Menhirini berdiri di tengah-tengah sebagai pusat dikelilingi oleh batu-batuyang berbentuk gamelan seperti gong dan batu pelinggih. Formasi semacamini lazim disebut formasi "temu gelang". Di tempat lain dapatdiperbandingkan dengan peninggalan megalitik di Matesih, Jawa Tengah,dan di situs Pugungraharjo di Lampung Timur.***SITUS Batu Goong dilengkapi kolam megalitik berukuran cukup besar, yangdikenal dengan situs Cataman. Cataman berada di sebelah barat Batu Goongjaraknya kira-kira 450 m, dan posisinya berada lebih rendah. Berdasarkanhasil pendataan Suaka Peninggalan sejarah dan Purbakala Serang,menunjukkan dahulu situs Batu Goong dan Citaman merupakan satu kesatuan,satu kompleks budaya dan satu periode. Di Citaman terdapat batu-batuberlubang, batu datar, batu dakon dan batu bergore. Disamping itu disitus Batu Goong-Citaman ditemukan pecahan keramik, diantaranya keramikSung putih berasal dari akhir abad ke-10 M yang paling tua, dan keramikYuan dari abad ke-14 M yang lebih muda.***SATU hal menarik dan menjadi perhatian adalah bila ditarik garis lurusbarat-timur, antara Batu Goong dengan Sanghyangdengdek akan berakhir dipuncak Gunung Pulosari sebagai kiblat persembahan tempat roh nenekmoyang sekaligus menganggap Gunung Pulosari itu sendiri sebagai gunungkeramat. Anggapan ini tidak berlebihan mengingat Babad Banten yangmerupakan produk masa Islam masih menyebutkan Gunung Pulosari adalahgunung keramat. Berdasarkan penuturan Babad Banten kendatipun GunungKarang dan Gunung Haseupan juga banyak disebut-sebut tempat kegiatanasal mula pendukung/masyarakat Banten, namun Gunung Pulosari dinyatakanlebih penting ditinjau dari segi kekeramatannya. Hal ini mungkin karenaGunung Pulosari sejak zaman prasejarah ditunjuk sebagai gunung sucitempat para arwah leluhur. Pada tahun 1993 Ny Sawinah, penduduk DesaSukasari, pernah menemukan potongan kaki arca dari masa klasik disebelah barat situs Batu Goong. Hal ini berarti situs Batu Goong-Citamanmerupakan situs megalitik berkelanjutan. Peninggalan-peninggalan diseputar Gunung Pulosari jauh lebih lengkap, lebih banyak dan artefaknyadapat ditelusuri hingga ke masa klasik. Bahkan banyak sarjana kenamaantelah memiliki bukti awal yang menunjukkan di Gunung Pulosari pada abadke-7 atau ke-9 telah berdiri bangunan candi, khususnya dari agama Hindu.Data atau buktinya kini tersimpan di Museum Nasional Jakarta berupakoleksi beberapa buah patung arca Hindu seperti arca Brahma, arca Siwa,arca Agastya, arca Ganesha, arca Durga, dan lapik arca dari GunungPulosari. Masih di seputar Gunung Pulosari, tepatnya di lerengselatannya, di Kampung Baturanjang, Desa Palanyar, Kecamatan Cimanukditemukan sebuah dolmen. Dolmen di Baturanjang tergolong telah majukarena meja batunya telah dikerjakan secara halus. Dibandingkan dengandolmen-dolmen yang ditemukan di Sumatera bagian selatan, dolmenBaturanjang amat menarik karena terbuat dari batu andesit yang tergolongmaju. Dolmen dibuat secara halus dan permukaannya rata, disangga empatbatu dan dikerjakan sangat rapi dengan pahatan pelipit melingkar. Dibawahnya terdapat pondasi dari batu kali untuk menahan agar batupenyangga tidak terbenam ke dalam. Di sebelah timur dolmen terdapat batulumpang atau batu berlubang. Bentuk dolmen Baturanjang ini mengingatkanpada batu dolmen dari Sumba yang digunakan sebagai tempat penguburanraja-raja. Namun, secara pasti fungsi dolmen Baturanjang belum diketahuiapakah sebagai kuburan atau media pemujaan arwah leluhur, mengingatbelum pernah dilakukan penelitian dalam bentuk ekskavasi arkeologis.***MASIH di seputar Gunung Pulosari, di Kampung Cidaresi, Desa Palanyar,Kecamatan Cimanuk, ditemukan batu monolit megalitik yang ternyata batubergores. Bentuk goresannya sangat berlainan dari batu-batu bergores ditempat lain. Batu bergores Cidaresi berbentuk segi tiga dengan lubang ditengah-tengah sehingga menyerupai kemaluan wanita. Karena itu, penduduksetempat menamakannya "batu tumbung" yang berarti kemaluan wanita.Diduga batu Cidaresi ini menggambarkan simbol kesuburan, atau sebagailambang kesucian wanita. Demikian beberapa gambaran temuan kepurbakalaandi seputar Gunung Pulosari yang diduga sebagai salah satu pusatperadaban Banten pada masa lalu. Di era otonomi daerah dewasa inipeninggalan tersebut patut menjadi perhatian pemerintah daerah untuktetap melindunginya dan menjaga kelestariannya bahkan kemudian dapatdimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata budaya. (Juliadi, tenagateknis di Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Serang, Banten)
Read more
 

hujan, jalak dan daun jambu Design by Insight © 2009