catatan perjalanan : kerintji episode "mbak, saya takuuuuut....!"

Tuh kan. Betul saja. Pantesan perasaan kami tadi  tidak enak. 

Baru saja mulai trekking, di depan mata kami penuh dengan tanjakan panjang. Ibarat naik tangga. Dari lantai satu hingga lantai tiga terus menerus naik tanpa ada bordes.  

Panjang amaaaat!!! 

Memang sih kadang-kadang tangganya ada belokan –saya berharap ada pos disana ..ngarep!- 

Tapi rupanya ada tanjakan panjang lagi yang sama persis. 

Oh .. kadang-kadang ditambah bonus dengan jalur panjang nan sempit bekas aliran air yang harus kami lewati pula. 

Dan itu terus menerus kami lewati untuk 4,5 jam kedepan.

Hmmm.. tanjakan yang aneh… 

Saya frustasi. 

Sementara Cecep, pak John sudah jauh di depan.  Lalu -mungkin karena tak sabar-  Wangsa menyusul. 

Sedang Ivana dan Emma berselisih setengah jam di depan kami berdua –saya dan lia- 

dan Joko tertinggal jauh di belakang. 


AKHIRNYA NGECAMP JUGA

Pukul  16.50 pak John menjejakkan kakinya di shelter 2. Tak lama kemudian Wangsa dan Cecep datang menyusul. 

Dan duapuluh lima menit kemudian, tiga tenda sudah rapi didirikan diantara rangka besi bekas atap shelter yang sudah bisa dipastikan, atapnya sudah hilang entah kemana. 

Pos 2 terletak di sisi kiri jalur. Memang tidak ada patokannya sih. 

Tapi kalau sudah menemukan tempat terbuka dengan dataran cukup luas -cukup untuk mendirikan satu atau dua tenda- maka disisi kiri ada jalur yang turun kebawah. 

Ikuti saja. Karena tak jauh dari situ, ada dataran luas, dengan bangkai rangka shelter yang tempatnya cukup terlindung untuk mendirikan tenda.  Sekitar 5-6 tenda lah..

Setelah tenda rapi, Cecep menanti kami di persimpangan jalan. Mungkin dia khawatir pos 2 luput dari perhatian. 

Jadi begitu saya muncul –dengan rasa lega dan bahagia, saya lho..bukan Cecep ;) tapi mungkin cecep juga sih. entahlah- Cecep menyuruh saya untuk turun ke shelter.  

Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore kurang lima menit.Lima menit kemudian, Lia datang. Dan Joko datang 30 menit kemudian, nyaris dijemput karena hari hampir gelap. 

Tapi untunglah… Sekarang semua lengkap tiba dengan selamat.

Malam itu kami menghabiskan sisa nasi siang tadi. 

Wangsa memasak sup panas yang kental, dadar telur serta menghidangkan empal daging –sumbangan pak John-

Lalu ditutup dengan teh dan kopi hangat. 

Semua masuk ke tenda masing-masing dan tidur. Kami masih bersahutan dari balik tenda. 

“Aku kayaknya nggak ikut muncak deh” sahut Lia lirih diantara dengkuran Emma. 

Yang lain bergumam tak jelas. Mungkin karena sudah tidur. 

Tapi rasanya sayang saja, sudah sejauh ini tidak diteruskan, Lia.  Kita sudah di 3000 meter lho…

Tapi.. kita lihat besok saja lah ya. Mudah-mudahan, sudah kembali fit untuk melanjutkan perjalanan. 

KESIANGAN

Akibat dua butir antimo yang saya telan setelah makan malam semalam –thanks for the tips mas ei-  saya langsung tertidur pulas. Tapi sayup-sayup saya masih mendengar Joko mengingatkan pak John di tenda seberang. 

“Pak John.. jangan lupa jam dua subuh udah pada berangkat ya” kata Joko. 

“Iya! Pasang alarm” 

”Iya” 

Tapi tak seorang pun yang menyetel alarmnya 

 Hari ketiga 22 april 2011

Yang berangkat pagi ini hanya kami bertujuh. Kecuali Joko yang memang sejak awal bertekad hanya untuk sampai di shelter 2 saja. Toh dulu dia sudah pernah kesini. 

“Biar saya yang jaga tenda. Pokoknya ketika kalian turun, sudah tersedia sayur asem dan tempe goreng” janjinya. Manis.

Lia akhirnya ikut juga. Setelah kami semua bergegas. Jam setengah lima subuh barulah kami  benar-benar berangkat. 

Fiiiuuuuuh.. masih 800 meter lagi naik. Masih jauuuuh sangaaaat..!!!

JALUR AMPUN DJ !!!!

Ih… sumpah deh. Baru kali ini nemu jalur yang ampun DJ. 

Bayangkan.. kami mengikuti jalur air. Dalamnya sudah melewati kepala kami. 

Saya kok nggak melihat ada jalur lain, misalnya jalur setapak yang normal –hahaha.. ngarep lagi deh!- yang menembus pohon-pohon cantigi itu.

Jadi, mau tidak mau, kami berusaha berpegangan pada akar pohon. Meniti batang pohon ala pesenam dari rusia, bertumpu pada batu dan berusaha mengangkat tubuh agar bisa naik. 

Kadang kami tak tahu harus bagaimana lagi. Apalagi jika posisi dengkul sudah menyentuh dagu. Dan telapak kaki menggapai-gapai mencari pijakan. 

Kalau sudah begitu.. hanya lenguhan-lenguhan pendek ala sapi disana sini, yang menyesali diri kenapa pagi-pagi begini begitu gila untuk naik ke puncak. 

Pukul enam pagi, kami semua tiba di shelter 3. Matahari pagi sedang cantik-cantiknya. Cukuplah jadi pengobat rasa lelah kami. 

Shelter 3 ini tepat berada di batas vegetasi dengan pemandangan lepas ke arah pemukiman. 

Tempatnya cukup luas juga sih. Disini bisa didirikan 3 atau 4 tenda. 

Nah.. mulai dari sini ketabahan kami akan terus diuji. Begitu terang. Puncak dengan jelas terlihat. Tapi tidak sesederhana itu. Jaraknya masih jauuuuuuuh….

jalurnya berupa tanjakan terjal, jalur berbatu dan pasir vulkanik. 

Pasirnya tidak sehalus dan sedalam Rinjani atau Semeru. 

Disini pasirnya dangkal, kasar diantara batu-batu besar.  

Tidak setipis Slamet atau Raung tapi mungkin mirip seperti di gunung Merapi. 

Tapi yang membuat saya frustasi adalah ketika melihat pak John terus naik tanpa henti.

katanya sih mau mengejar puncak, lho? Memangnya puncak mau lari kemana?  

hingga saya hanya melihat sebuah titik berwarna merah saja –kebetulan dia mengenakan jaket merah- 

Lalu disusul dua titik berikutnya. –masih warna merah juga- itu adalah cecep dan Ivana.Dan kemudian Wangsa menyusul Lia dan Saya.

Semula, Emma masih menemani kami di belakang. Tapi akhirnya meninggalkan kami berdua. 

Ah.. lengkap sudah. 



Padahal saya berharap banyak jika ada salah seorang lelaki yang mau menjadi sweaper kami kali ini. 

Hiks! Bagaimana jika dua wanita mungil imut tak berdaya –maab kalau ilustrasi saya kali ini terlalu hiperbolik   ini tak mampu menuntaskan perjalanannya?

Saya masih mengiringi Lia. Wajahnya pucat pasi. –mungkin wajah saya juga pucat. Tapi berhubung make up saya cukup tebal,  jadi nggak kelihatan, hahaha.. lebay!- 

Beberapa kali ia berhenti. Saya tidak tahu apa yang ada di benaknya. 

Tapi saya diam saja. Mungkin dia sedang bergulat dengan pikirannya sendiri. I dunno.. 

Saya siap kok –lahir batin-  berapapun waktu yang ditempuhnya untuk naik. Pasti saya jabanin. Walau perlahan, pasti kami akan tiba juga toh.

Lalu akhirnya saya tahu penyebabnya.

“saya takuuuuuuut, mbaaaaak”

“hah? Takut? Takut apa?”

Kepala saya menoleh ke kanan dan ke kiri. Apa ada penampakan di alam terbuka seperti ini?


ah... apakah kalian juga tahu apa penyebabnya? hmm... tunggu lanjutannya sadja yaaah..


(BTR, 12.07 wib, hari yang cerah.  mpus2 tidur disekitar. tetangga depan lagi pindahan rumah, dan tukang di sebelah rumah sedang bekerja)
Read more

ketika waktu berhenti di danau gunung tujuh




Apa kalian yang pernah mendengar Danau Gunung Tujuh? Ah.. hanya gara-gara melihat sebuah foto tentang danau ini. Saya jadi penasaran ingin melihat langsung. 

Danau ini berada di ketinggian 1950 meter diatas permukaan laut.  Danau yang masih berada dalam wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat itu merupakan danau tertinggi di Asia Tenggara.

Keindahannya bertambah lengkap dengan barisan tujuh gunung yang mengelilinginya. Ketujuh gunung itu meliputi Gunung Hulu Tebo (2.525 mdpl), Gunung Hulu Sangir (2.330 mdpl), Gunung Madura Besi (2.418 mdpl), Gunung Lumut (2.350 mdpl), Gunung Selasih (2.230 mdpl), Gunung Jar Panggang (2.469 mdpl) dan gunung Tujuh (2.735 mdpl)

Pagi itu, setelah semalaman turun hujan, bumi Kerinci diselimuti kabut. Untuk mencapai danau, kami mulai dari gerbang pos Taman Nasional Kerinci Seblat. Letaknya ada di Desa Pelompek. Desa ini ada di ketinggian 1600 mdpl. Dengan membayar tiket masuk Rp 2500 per orang. 

Kami mulai perjalanan hingga pintu rimba. Dari pintu rimba hingga puncak gunung –sekitar 2000 mdpl- jalurnya terus naik tanpa bonus.  Kurang lebih sekitar 2 jam perjalanan hingga puncak dan setengah jam lagi untuk turun hingga tepi danau. 

Dan ternyata benar. Danau persis seperti foto yang saya lihat waktu itu. 

Nah… bagaimana? Apakah kalian mau menyusul kami kesana?


Danau Gunung tujuh, 24 April 2011


untuk kisah perjalanan, silakan mampir kesini : catatan perjalanan
sedang foto-fotonya .. ada disini  a road to kerintji
Read more

catatan perjalanan : kerintji episode : PLEASE DEH….SAYA BUKAN ATLET !

Setelah bertahun-tahun jalan bareng dengan rupa-rupa pendaki. Saya akhirnya bisa mengkatagorikan mereka kedalam dua golongan utama.  

Tipe pertama adalah tipe atlet. 

Nah.. jangan bayangkan mereka seperti atlet binaraga atau atlet tinju yang berbadan besar dan kuat. 

Orang yang bertipe ini umumnya bertubuh kecil –nyaris ceking- tapi otot-ototnya liat dan rasanya kalau dipanggang pasti 
alot sekali. 

-belum pernah nyoba sih. Tapi sepertinya sih begitu haha..- 

Kata seorang teman, mereka ini memang sudah dianugerahi sistem tubuh dengan metabolisme yang baik. Melihat tampilan fisiknya, sekilas orang-orang dengan tipe ini rasanya tak mungkin bisa nanjak secepat dan sekilat itu. 

Tapi itulah ajaibnya ciptaan Tuhan. Dengan tubuh seperti itu, mereka bisa naik dengan cepat tanpa henti, memanggul keril hingga 100 liter.  

Bahkan kalau dibiarkan trekking tanpa beban. Saya yakin mereka sanggup tek tok sampai puncak dan turun hari itu juga. 

Nah.. tipe kedua adalah tipe manusia biasa. 

Tipe kedua ini adalah tipe pendaki yang pasrah menerima kenyataan bahwa dirinya adalah manusia biasa dan harus bekerja keras untuk menyamakan kekuatan. 

Secara fisik, memang jauh berbeda dari tipe pertama. Mungkin karena terlalu banyak duduk di belakang meja. Alhasil tubuh bulat tak berbentuk akibat badan penuh lemak. 

Untuk bisa sekedar mendekati tipe atlet –mendekati lho ya.. bukan menyamai-  Berbulan-bulan sebelum pendakian mereka harus rela berkorban untuk berlatih untuk meningkatkan ketahanan fisik. 

Harus ditambah dengan manajemen kalori yang baik dan gizi yang cukup. Orang dengan tipe seperti ini biasanya berjalan perlahan dengan ritme teratur dan sering berhenti dengan ritme yang teratur pula -hehe.. maab.. kalo itu saya- dan selalu berharap pos terdekat sudah tiba. 

Keril tidak terlalu besar. Hanya barang-barang pribadi saja. Selisihnya bisa 3 atau 4 jam perjalanan di belakang sang atlet. 

Dan saya termasuk tipe kedua. 

Sebenarnya banyak lagi tipe lainnya. Pengembangan dari kedua tipe diatas. Lain kali lah. Kalau ada waktu akan saya bahas. Nah.. kalo gitu, bagaimana jika kita lanjutkan saja kisahnya. 

Begitu mulai, pak John langsung melejit mendahului yang lain. Joko mengekor di belakang. Disambung Emma, Ivana, Lia, Saya, Wangsa dan terakhir barulah Cecep menyusul.

Namun memang pada akhirnya formasi akan berubah sesuai dengan kecepatan dan ketabahan masing-masing 

Jarak dari pintu gerbang ke pos 1 tidaklah terlalu jauh. Bahkan dari pintu gerbang sudah terlihat ada pos 1. 

Jaraknya hanya beberapa puluh langkah saja. Disini ada semacam bagunan kecil – mungkin toilet- dan bangku panjang dari batu kali yang berbentuk huruf U. Cepat juga. 

Hanya sesaat kami disini. Mumpung masih pagi dan masih semangat. 

Kami langsung bergerak menuju pos 2. Kini kami sudah masuk menembus hutan tropis yang rimbun.Pukul delapan kurang sepuluh menit, Cecep dan Pak John sudah mencapai pos 2. 

Lima menit kemudian satu persatu dari kami mulai berdatangan. Jalur dari pos 1 ke pos 2 juga masih relatif datar. 

Terus naik sih tapi tidak terlalu ekstrim. Disinipun kami hanya istirahat sejenak. Ada bangunan beratap fiber dengan rangka besi tapi tanpa dinding. 

Ada bangku dari adukan semen dan batu di dekatnya. Tempatnya cukup lapang. Bisa dipakai untuk berteduh di kala hujan. 

Jarak dari  pos 2 ke pos 3 tidaklah terlalu jauh. Walau jalurnya mulai bervariasi tapi masih bisa kami atasi. 

Disini jalannya kombinasi dari yang sedikit landai hingga mulai menanjak. Tapi tanjakannya.. masih manusiawi kok 

Kami masih berada di dalam hutan sekunder dan mulai banyak lumut.  

Pukul 09.04 pagi Cecep sudah duduk manis di pos 3. Pak John baru datang. 

Sementara kami, masih tercecer di belakang. Ivana berjalan bersama Emma. 

Jauh di belakang mereka, menyusul saya dan lia. Baru kemudian terakhir di belakang, ada Wangsa dan Joko.  Masing-masing rombongan kami terpisah sekitar 15  menit jaraknya. 

Ya.. tentu saja sebagai akibatnya kami baru full team sekitar pukul sepuluh pagi.

Pos 3 ini bentuknya mirip sekali dengan pos 2. 

Beratap fiber dan kombinasi rangka kayu+besi, berlantai tanah dan dilengkapi dengan bangku batu panjang berbentuk huruf U. 

PERJALANAN BARU SAJA DIMULAI

ah.. agar tidak bingung, ada baiknya saya jelaskan disini. Tidak seperti di gunung lain, di tempat ini urut-urutannya adalah : 

pos 1 – pos 2 – pos 3 – shelter 1 – shelter 2 – shelter 3 – tugu yuda - puncak

Maka… setelah pos 3, kami teruskan lagi perjalanan menuju shelter 1. Tahukah kalian apa yang terjadi? Cecep dan Pak John sudah nongkrong di shelter ini sejak jam 11 pagi. 

Dan saya.. baru tiba.. satu setengah jam kemudian.. hahahaha…maaf ya. Kalian jadi lama menunggu.

Ini semata-mata dikarenakan tanjakan-tanjakan itu tak ada habisnya ditambah dengan dengkul dan nafas kami yang sepertinya harus di-upgrade lagi deh.

Cecep sudah menyalakan kompor dan membuat minuman. Aduh, nikmatnya..!!! 

Maka, bekal nasi kami buka. Ini memang waktunya makan siang. Dengan lauk rendang yang sengaja Pak John bawa dari Jakarta. Lengkap sudah makan siang kami saat itu. 

Shelter 1 ini cukup luas lho. Bisa didirikan tenda disini. Namun sayang, bangunan shelternya sudah binasa. 

Hanya ada onggokan rangka besi bekas atap shelter yang rebah di tanah. 

Disini kami bertemu dengan satu rombongan pendaki yang baru naik, namun mereka akan menginap di tempat ini.

Pukul 13.30

Dengan berat hati –karena rasanya ingin buka tenda saja di shelter 1 ini - pendakian kami lanjutkan lagi. 

“Mbak, lihat deh” tunjuk Lia pada papan penunjuk shelter. Ada papan tambahan yang bertuliskan : 

PERJALANAN BARU DIMULAI, JAGA SIKAP DAN PERBUATAN


Kami saling berpandangan. 



Perasaan kami mulai tidak enak. 
Read more

catatan perjalanan : kerintji episode "pak ada rice cooker?"

Lalu setelah diselidiki lebih dalam… 

yaoloooooo….

Rupanya Lia jatuh tersungkur tepat di belakang saya. Lengkap dengan beberapa botol aqua besar dalam pelukannya. Berlatar wajah-wajah bengong tanpa ekspresi dari para lelaki yang sedang estafet menurunkan carrier. 

Saya menahan senyum.  Dilema. Antara mengeluarkan kamera .. atau menolongnya bangun. Hihihi…

Bang Alex menghentikan mobil tepat di depan homestay Subandi. Homestay ini letaknya tak jauh dari patung meong yang terkenal itu. 

Iya deh.. itu istilah saya aja. Yang bener.. tugu Simpang Macan. Kasihan sekali. Ia nampak sendirian ditengah kegelapan 

–dan kemudian baru saya sadari kalau di sekitarnya adalah lautan kebun teh- 

Di sepanjang jalan dekat patung meong ini, ada beberapa homestay. Sebut saja homestay Paiman yang sekarang dikelola oleh bu Paiman. 

Homestay ini terkenal sekali. Coba saja perhatikan. Setiap pendaki atau orang yang hanya sekedar pengen jalan-jalan di sekitar Kerinci, pastilah homestay ini yang direkomendasikan.

Tapi kami memilih homestay Subandi. Konon.. homestay ini justru direkomendasikan oleh turis mancanegara. 

Nah lo? Kenapa bisa begitu? Nanti deh ceritanya. Turun gunung nanti. Pasti Pak Bandi akan saya wawancarai.

Begitu masuk rumah. Terasa kehangatan datang dari dalam rumah. Rumahnya cukup luas. Memanjang dari utara ke selatan. 

Beberapa kamar berjajar rapi disisi barat. Di hadapannya berbaris ruang tamu, ruang makan,  ruang tv dan terus hingga dapur di belakang.

Beruntung pada saat itu penginapan sedang sepi. Tapi hari-hari didepan sudah penuh dipesan orang. Kami diberi dua kamar. Pas deh. Empat cowok, empat cewek. Semua carrier masuk ke kamar masing-masing. Sepatu-sepatu juga dimasukkan ke dalam rumah. 

Dan setelah itu semua sibuk dengan ritual masing-masing. Joko sih langsung ngobrol dengan pak Bandi di ruang belakang. 

“sambil nunggu sinetron wahyu!” hehehe.. ini sinetron favorit kami berdua. Sebenernya sih judulnya Pesantren n rock n roll.  

Berawal dari iseng-iseng nonton sinetron tapi akhirnya keterusan hingga sekarang. 
Walau sebenarnya kami lebih sering ditonton tv. karena kerap tertidur di depan tv  

Lalu bagaimana dengan yang lain? Ah… semua berebut mandi dan mencari stop kontak listrik. Maklumlah, semua HP, baterai kamera dan ipod butuh dicharge ulang. 

Saya hanya ingin segera mandi, makan dan langsung tidur. Besok kami akan berangkat pagi-pagi sekali. . 




“PAK… ADA RICE COOKER?”

Namanya juga go show. Jadi berita bahwa bu Subandi sedang ada di luar kota –dan tak ada yang biasa memasak makanan untuk tamu- dan berita bahwa kami harus menyiapkan makan sendiri -karena tak satu pun warung yang buka- adalah berita yang sudah bisa saya tebak sebelumnya alias pasrah..!!

“Kenapa tadi tidak mbungkus lauk saja ya” Sesal Pak John. 

“Untung tadi kita udah belanja logistik ya Mbak” sambung Lia.

Joko datang dengan laporan : semua warung nasi sudah tutup. Tapi dia membawa tambahan telur dan delapan bungkus bakso. Iya, hanya ada warung bakso yang bukaa sehingga bakso-lah menu makan malam kami saat itu.

Dengan cepat kami menghitung logistik kami. Air, telur, beras, tempe, bawang, minyak, mie instan.. semua lengkap. Wangsa menyumbang sayur mayur. Pak John juga menambahkan empal, kering teri dan rendang untuk logistic kelompok kami. Sip!!!

Tapi memang harus ada yang dikorbankan. 

Dan telur-telur kami nan lucu itu, terpaksa kami pecahkan untuk menu sarapan kami esok hari. 

Urusan beras.. tidak masalah. Pak Subandi memberikan berasnya untuk kami masak malam itu. 

Ah.. dilema emak-emak nih. Kalau bukan di dapurnya sendiri, rasanya gimanaaa gitu. Saya nggak hapal dimana gadget-nya diletakkan bu Subandi. Dimana panci, dimana keran air, pisau atau piring.  

Untunglah ada Lia dengan cekatan membantu saya di dapur. Dan Ivana yang membantu menggoreng dadar telur keesokan paginya. 

“Nah.. ini dia!” seru saya gembira ketika melihat panci rice cooker. Tapi mana rice cookernya? Hihihi.. kebiasaan masak nasi dengan rice cooker. Jadi sudah lupa caranya menanak nasi. 

Hari kedua, Kamis 21 april 2011 pagi

Kersik Tuo pagi itu diselimuti kabut. Gunung kerinci tak terlihat dari sini. Tanpa disuruh lagi kami semua bersiap dan mulai sarapan di meja makan.  

“Mbak.. itu piringmu” cetus Lia. Ada satu piring yang sudah berisi nasi dan potongan telur dadar yang dihiasi kecap manis.

“Tadi dititipin om eMJe. Katanya buat mbak Aries” Walaaaah.. co cuuuuiiiit…!!!! Akyu terharuuuu….

Mobil pick up carteran kami sudah siap di depan. Nama supirnya, Mas Hen. Masih ada hubungan saudara dengan pak Subandi. Kami mencarternya sekaligus untuk menjemput kami hari Sabtu sore lusa. Mobilnya masih baru. Di sela-sela orderan mengantar turis seperti kami ini. Tugas utamanya adalah mengantar sayur mayur ke Kota Padang. 

“Kenapa Padang?” kenapa harus ke propinsi sebelah? Apa di Jambi sendiri tak ada tempat? 

“Jalannya jelek, Mbak! “ keluhnya panjang. “Tapi kalo ke Padang, jalannya mulus. “ 

“ooooo”

 “Semua jalan di propinsi Jambi ini jelek semua. “ tambahnya dengan sebal. 

SIRUP KAYU MANIS, DODOL KENTANG DAN TEH KERINCI

Jam enam lewat duapuluh menit –ah.. tumben nggak terlalu ngaret 

semua masuk ke dalam bak mobil bersama ke delapan carrier kami. Saya dan Joko duduk didepan disamping pak kusir doooong.

Urusan perijinan pendakian, kami serahkan kepada Pak Bandi. Katanya, biar dia saja yang mengurus perijinan. 

Jadi kami tak perlu berhenti di R10. R10 ini adalah pos lapor TNKS bagi para pendaki yang hendak naik ke gunung ini. 

Lagi pula nanti kami juga akan melewati R10. Dan kata pak Subandi juga, sekarang di R10 sedang diduduki kopassus –aiiiiih.. istilahnya serem amat ya- Mereka juga sedang latihan di gunung ini. 

Dan memang benar, begitu kami lewat, ada beberapa tenda pleton dipasang di halaman belakang gedung TNKS.Sambil lalu saya ngobrol dengan mas Hen ini. Apa bisa dicarikan sesuatu yang khas dari daerah ini? Turun gunung terkadang kaki sudah terlalu lelah untuk berkeliling mencari oleh-oleh. Atau bahkan waktunya yang tak cukup karena kami terlalu lama di gunung. 

Mas Hen datang dengan satu solusi tepat. Aha..! Turun gunung nanti, dia akan siapkan oleh-oleh khas Kersik tuo. 

Saya langsung pesan delapan set berisi sirup kayu manis, dodol kentang dan teh Kerinci. Agar teman-teman tak perlu repot lagi mencari oleh-oleh. 

Pukul 7 tepat kami sudah ada di ladang. Sepertinya ada baliho gede disini, tapi hanya tinggal rangkanya saja. Nun jauh diatas sana, terlihat gapura gerbang selamat datang. Pick up-nya nggak berani naik kesana. Maklum … mobil baru  

Setelah foto-foto, beberapa dari kami pergi ke toilet alam dulu. –disini ivana nyaris jatuh karena tersangkut pagar kawat- lalu kami semua pemanasan bersama berlatar gunung Kerinci yang mulai tersibak oleh kabut. 

Betul juga, pemanasan itu perlu lho. Agar otot-otot betis, lengan dan semua otot terkait tak akan kaget karena kami akan melakukan aktifitas berat hari ini. Semoga lancar. 

Doakan ya!
Read more

catatan perjalanan : kerintji episode In a middle of nowhere ada sebuah rumah makan

BANG ALEX YANG GUNDAH GULANA

13.00 siang

Siang itu bang alex –sopir kami- menyetir dengan rasa gundah.

Di sela-sela curhatnya kepada Pak John yang duduk di depan, ia membagi kegelisahan hatinya. Ia tidak puas dengan sistem bagi hasil mobil carterannya. 

Saya, Joko dan Wangsa yang duduk di baris kedua, menguping dari belakang. 

Kami prihatin. Namun keindahan alam ranah minang ini segera menghapus rasa sedih itu. Dibujuk akan diberi tips dan makan bersama. Hatinya pun kembali riang gembira. 

Pukul satu siang itu. Kami resmi menuju Kersik Tuo. Setelah sebelumnya beberapa kali mobil dihentikan seperti di :

(1) pasar : untuk belanja tambahan logistik 
(2) toko bahan bangunan : untuk mencari spirtus –ini untuk bahan bakar kompor kami selama di gunung nanti- 
(3) bank mandiri : ini yang paling penting …haha .. spesial kami dedikasikan untuk Emma yang pusing tujuh keliling karena hari itu  adalah batas akhir untuk pembayaran tagihan di kedainya. 

Kersik Tuo akan kami capai dalam waktu sekitar 6-7 jam perjalanan lagi. 

Harap dicatat ya. Ini sudah rute tercepat karena jalurnya memotong bukit dan gunung. 

Umumnya orang menyebut jalur ini dengan jalur Padang-Sungai penuh via Muara Labuh. Jaraknya sekitar 260 km sadja. 

Bandingkan jika kami harus menyusur pesisir pantai selatan yang jarak tempuhnya sekitar 277 km atau Padang-Sungai penuh via Painan yang jaraknya sekitar 329 km. Ataaaaaau … siapa tahu ada yang berniat berangkat dari kota Jambi.  Yang jaraknya 458 km dan harus dibayar tunai dengan 11 jam perjalanan.  Ampun deh apalagi kalau ditambah dengan jalan propinsi yang rusak!  

Semua sudah kami lakukan. Melihat keluar. Melewati hutan. ngobrol. Tidur. 

Bangun. Melewati dusun. Ngemil. Tidur lagi. Bangun. Ngobrol. Denger ipod. 

Tidur lagi. Melewati hutan lagi, melewati sungai dan danau. 

Hingga kami akhirnya nyaris menjerit karena gembira. Karena kami berhenti tepat di depaaaaan………


RUMAH MAKAN SUNGAI KALU 

jam 15.30 sore

In a middle of nowhere .. ada sebuah rumah makan. Namanya Rumah Makan Sungai Kalu. 

Posisinya persis di kilometer 117 dari kota padang dan sekitar 20 km lagi menuju kota Muara Labuh. Sudah rahasia umum. 

Kalau kebetulan melihat banyak mobil dan truk parkir di depan rumah makan. Bisa dipastikan sembilan puluh sembilan persen -satu persennya mari kita sisakan untuk hal tak terduga yaaa…- makanan di rumah makan itu pasti enak dan muuuuurrrrraaaaaaaahhhhh… hahaha…! 

Ini rumah makan yang direkomendasikan Bang Alex. Menu andalan rumah makan ini adalah :

ayam kampung bumbu cabe hijau.  

Tahukah kalian…..potongan dada ayam kampung itu digoreng panas-panas dan dihidangkan diatas piring kecil. 

Ditambah dengan hiasan kentang goreng yang dipotong memanjang –kentangnya baru digoreng juga-, ditambah beberapa keping jengkol goreng –ini juga masih panas mengepul karena baru digoreng-, lalu ketiganya disiram dengan bumbu sambal cabe hijau. 

Tidak hanya cukup sampai disitu. Diatasnya kemudian ditabur bawang goreng yang kriuk kriuk gimanaaa gituuu….  Endang sekali! (dan saya heran, kenapa Pak Bondan belum datang kemari? )

Ya Tuhan.. tolonglah hamba, berat sekali godaan hidup ini.

Walau katanya menu utamanya hanya ayam bumbu cabe hijau ini.. tapi dia datang bersama teman-temannya. 

Ada belut goreng bumbu cabe hijau, ikan sungai bumbu cabe hijau, gulai ikan, gulai ayam, daging rendang, dendeng balado, ayam bakar, tumis buncis kuah santan, sup kambing panas, rupa-rupa lalap dan menu lainnya yang saya tak sempat saya ingat lagi saking banyaknya. 

Hoho.. makan dulu yaaaa…!

Satu setengah jam kemudian kami beranjak pergi. Hampir magrib ketika masuk kota Muara Labuh. 

Dan hujan pun turun. Hanya sejenak kami sempat meresapi kota kecil ini. 

Rumah-rumah gadang yang berkelebat cepat, para wanita dengan mukena yang bergegas  menuju mesjid, dan langit yang mulai redup. 

Lalu elf-pun melaju cepat.  Jalan berkelok sepertinya makanan sehari-hari untuk Bang Alex. Saya tidak bisa membayangkan seandainya kami sendiri yang harus menyetir mobil di daerah ini. 

Dalam gelap dan dentaman musik –isinya kompilasi lagu kesayangan bang Alex- mobil kami menyisir kelokan demi kelokan sempit yang menikung tajam nyaris membentuk leter U dan langsung disambung dengan kelokan berbentuk leter S. 

Kadang Menikung naik. Kadang menikung turun. Jangan ditanya deh, apalagi ketika hari gelap, sudah berapa kali saya memejamkan mata saking takutnya. Ada satu atau dua kali elf ini berhenti di tepi jembatan. Entah apa yang dilakukan bang Alex. Berhenti untuk mencari toilet barangkali.

“Lho? Kenapa justru di tepi jembatan sih? Apa nggak berbahaya?”  saya usil bertanya. 

“Justru ini tempat yang paling aman” sahut Joko dengan sotoy-nya. Karena jembatan 
yang memotong sungai ini, biasanya ada di lembah dan kontur tanahnya lumayan datar. 

Dengan keadaan seperti ini, mobil kami akan terlihat jelas oleh mobil yang datang dari arah depan maupun belakang “Bahaya sekali jika kita berhenti di kelokan jalan.”

“ooooooo…

KERSIK TUO YANG SENYAP

jam 8 malam

Bener-bener sunyi deh desa ini. Padahal baru jam 8 malam. Dingin. Dan sisa-sisa hujan masih turun. Tak ada keramaian. 

Toko-toko pun sudah tutup sejak tadi. Hanya ada lampu-lampu temaram di beberapa sudut dan derum kendaraan yang lewat sesekali. 

Tapi kenapa ada suara gedebuk terdengar di tengah kesunyian ini. Rasanya kok tidak match ya dengan suasana desa yang senyap ini. 

Hmmm….bulu kuduk saya mulai berdiri.

bersambuuuuung..
oiya... foto-foto bisa diintip disini: a road to kerintji
Read more

catatan perjalanan : kerintji episode pak John

Rabu 20 April 2011, Bandara Minangkabau, jam 09.00 pagi

CALO DI BANDARA

“lha? Sudah diputuskan toh?” tanya saya pada Joko. Demi melihat Pak John bergerak menuju shuttle bus Damri. “Apa kita naik Damri ?” tanya saya bergegas menyusul Joko. Joko hanya mengedipkan mata. 

Ah.. saya tahu maksudnya.Pak John terlalu emosi. Mungkin karena tidak siap menghadapi calo pagi itu dan merasa harga yang ditawarkan terlalu tinggi. Jadi ia putuskan sendiri untuk ke kota Padang dan mencari angkutan menuju Sungai Penuh. Biasanya ini tugas Joko.-Urusan ramah-tamah –mulai dari preman setempat hingga calo ternama-, mencari kendaraan dan tawar-menawar harga itulah keahliannya.  

Tadi sebelum mendarat disini, kami sudah saling berbagi tugas. Biarlah Joko yang bertugas sebagai negosiator, Ivana yang mengurus tiket pesawat dan Lia yang mengurus keuangan regu.  Yang lain … cukup jadi penggembira dan penari latar 

Tapi entah mengapa, pagi itu Pak John amatlah bersemangat. Dengan handycam di tangan ia memasang tampang garang dihadapan para calo yang menawarkan mobil carteran. Maka inilah kami. Delapan orang, delapan carrier, beberapa daypack, beberapa tas kamera dan beberapa kantong plastik isi belanjaan. Kami memang serombongan turis yang tak tahu arah entah kemana. 

Sebenarnya sih, niat kami memang akan mencari kendaraan sewaan di Bandara. Rasanya jauh lebih efisien dan menghemat banyak waktu jika dengan mobil sewaan ini langsung menuju desa Kersik Tuo. Di desa inilah entry point menuju pendakian ke gunung Kerinci. 

Nah.. Desa ini ada di Kecamatan Kayu Aro, kabupaten Sungai Penuh yang ada di provinsi Jambi.  Tapi bergerak kesana kemari dengan troly penuh barang, sungguh bukanlah tujuan saya. Tahukah kalian apa yang terjadi? Kami urung masuk bis Damri.  Lalu kami berbalik lagi ke ujung apron. Kali ini Pak John memutuskan untuk naik mobil carteran. Kami mencarter 2 mobil. Bukan ke Sungai penuh. Tapi ke kota Padang.  Aha!!!

Namun kekacauan ini, nampaknya tak sempat diperhatikan oleh Cecep –yang bahagia karena baru pertama kalinya menginjak tanah minang- Emma –yang kedua jempolnya selalu menempel di keypad BB- Lia –yang masih tak percaya bahwa akhirnya dia pergi juga kesini- Wangsa –yang dengan setia mendampingi pak John- serta Ivana –yang bertekad untuk membawa pulang keripik pedas Christine hakim yang terkenal itu- Sedang saya…. –setengah mati menahan lapar karena tadi belum sempat sarapan-

Lalu… akhirnya dua mobil beriringan meninggalkan Bandara Internasional Minangkabau. Saya tak tahu apa yang terjadi di mobil depan. Yang malah belok kanan dan masuk menuju rumah makan padang. RM. AMPERA BUNGO LANSANO. 

Waaaa… ini dia yang saya tunggu-tunggu dari tadi. 

Makaaaaaan….!!!!!

Tapi sebelum saya lanjutkan kisah ini.. tidak ada salahnya jika saya ceritakan sejenak teman-teman seperjalanan saya kali ini. Setelah berbulan-bulan sebelumnya berburu tiket, berbulan-bulan mencari informasi, berminggu-minggu bongkar pasang pasukan, berhari-hari sedih karena beberapa teman batal ikutan, akhirnya inilah kami, delapan orang yang cukup ‘gila’ untuk ngetrip ke gunung Kerinci, 20-25 April 2011 lalu. Dan mereka adalah :

(1) R. Joko Sutias, dia suami saya tercinta. Setelah bertahun-tahun gantung kerir dan membiarkan saya ke gunung sendirian, akhirnya mau juga dia menemani saya pergi ke Kerinci tahun ini. 
“Tapi hanya sampe homestay aja ya Hany”-ini nama panggilan sayangnya untuk saya- “Saya nunggu disana” Huuuuuu !!! Tapi mungkin karena tak tega melihat saya dia pun mulai giat berolahraga. Nah.. dengan begitu, target bisa sedikit dinaikkan dong ya? “Iya deh.. saya nunggu di pos satu saja!” sahutnya sambil nyengir. Kwaks!!!

(2) Deni Wangsa, ini teman lama saya. Saya kenal Deni waktu kami gabung di salah satu mailing list medio 2005 lalu. Setelah itu baru saya tahu kalau Deni ternyata teman lama Joko juga. Sejak menikah dengan Nani dan memiliki seorang anak perempuan yang lucu dan menggemaskan itu,  kami sudah jarang juga jalan bareng. Sekarang perutnya tambah ndut.  Terakhir naek gunung bareng .. waktu saya dan Joko ngetrip ke Argopuro. Whah… sudah bertahun lalu itu.

(3) John Charles Kesaulija. Yang lebih sering kami panggil dengan Pak John. Pertama kali saya ketemu dengan pak John sekitar tahun 2004 lalu di Tumpang. Rombongan saya dan rombongannya pak John berbagi carter jeep menuju Ranupane. Entry point sebelum pendakian menuju Semeru. Sudah bisa ditebak, akhirnya kami jalan bareng. Dan sejak saat itu, kalau waktunya cocok, kami naek gunung bareng. Setelah bertahun-tahun tak berjumpa, tumbennya.. beberapa hari sebelum ke Kerinci, Pak John menghubungi Joko. Pucuk dicinta ulam tiba.. ada tiket salah seorang peserta trip yang batal. Pak John pun.. ikuuuuut!!!!

(4)Emma Kusumaningsih alias Emma. Lumayan sering juga jalan dengan ibu yang satu ini. Mungkin karena waktunya klop dan ada kecocokan juga di hati kami berdua –hehehe.. ini sih saya yang GR-.  terakhir kali jalan bareng Emma kalo nggak salah ketika edisi mengantar Susan ke Pangrango akhir tahun lalu. –inget ya mak?- Awal kenal Emma juga melalui dunia maya sekitar 6 tahun lalu. Setelah bertahun-tahun saling mengomentari blog masing-masing. Dua tahun kemudian kami sempat jalan bareng ke Baduy.  Waktu itu kami jalan berlima. Dan salah satunya adalah dengan …

(5) Yusuf Fajarudin, tapi telinganya jauh lebih tegak berdiri jika dipanggil dengan nama Cecep. “Kok Cecep?” Padahal sih asalnya dari Jogja asli. Itu ada kisahnya tersendiri. Namun saya kenal Cecep juga dari dunia maya. Dari salah satu social network yang lagi booming waktu itu. Awalnya dulu hanya saling pantau saja.  Dan kemudian pertama kali jalan bareng ya waktu ke Baduy itu. Tapi baru sekali ini saya ketemu orang yang begitu ‘gila’ dengan warna merah. Baju merah, celana merah, hingga sepatu pun merah. Saya curiga… jangan-jangan.. bajunya hanya satu itu .. hahaha.. (piss ah Ceeep!)

(6) Ivana Noor Winahyu, Ivana saya kenal juga dari Cecep. Dia adik kelas Cecep di kampusnya. Akhir tahun 2009 lalu, saya dan Joko sengaja touring dengan motor hingga Jogja. Cecep baik banget deh. Dia mengijinkan kami menginap di rumahnya. Ivana pun ikut sibuk menjemput dan menemani kami. Waktu ke Guntur  tahun lalu, saya belum kenal betul dengan Ivana. Hanya saja akhirnya baru saya tahu setelah trip ini. Ternyata, anak ini.. gembul sekaliiiii hehehe.. dan ada satu kesamaan saya dan Ivana. Ternyata kami berdua sama-sama fans berat-nya Briptu Norman ..hahaha…

(7) Yunita Lianingtyas, alias Lia.  ini pendakian perdananya. Keren ya? Pendakian perdana dia langsung ke 3805 mdpl. Jujur, mulanya saya ragu. Apa Lia mampu. Apalagi tak seorang pun yang kenal dengan dia. (catatan : Dia ikut trip ini juga atas ajakan temannya yang rupanya batal ikut) Di hati kecil saya, saya takut nanti akan menyulitkan Lia sendiri -dan kemudian menyulitkan teman-teman lainnya- 
Tapi ternyata saya salah besar. Ternyata Lia mampu kok dan yang penting dia punya daya juang yang cukup tinggi. Ditambah dengan modal jogging 2 kali seminggu di senayan. Lia ternyata sanggup menuntaskan pendakian perdananya. Walau dengan catatan … “Untuk berbulan-bulan setelah ini.. gue nggak akan naik gunung dulu ya. mbaaaaak” 

(8) Dan saya sendiri, Ariesnawaty…  cukup berbahagia untuk mempersembahkan sedikit catatan perjalanan kami kali ini.


BERGANTI KENDARAAN

Jam 10 pagi

Barangkali ini efek samping dari sepiring nasi yang disiram dengan kuah gulai ayam, potongan dada ayam goreng pop, sedikit bumbu rendang dan sambal hijau lengkap dengan irisan mentimun. Lalu terakhir brunch ini ditutup dengan sempurna oleh segelas kopi panas ….Ambooooy…. 

Terlalu sibuk dengan dada ayam yang sangat menggoda itu, saya jadi lengah untuk mengikuti perkembangan yang terjadi di luar sana. Tapi akhirnya kami semua tahu, kalau saat itu haluan telah berubah. Kedua mobil carteran tadi, urung mengantar kami ke kota Padang. Sang calo, akhirnya kembali menawarkan kembali mobil elf untuk mengantar kami ke Kersik Tuo. 

Dibantu Joko, Cecep dan Wangsa. Akhirnya luluhlah hati Pak John. Berdiskusi sejenak. Lalu jadilah kami gunakan elf itu. Kini kami kembali ke jalan yang benar. 

Jam setengah dua belas siang, kami sudah duduk manis dalam elf trayek padang-sungai penuh.  


Bersambung -kalo sempet ditulis lanjutannya -
Foto-foto bisa diintip disini: a road to kerintji
Read more

road to kerintji




ini mimpi saya sejak bertahun lalu. …..



Ribuan terimakasih untuk suami tercinta dan teman-teman seperjuangan… Joko, pak John, Lia, Emma,  Cecep,Wangsa dan Ivana ...nanti kita kemping bareng lagi yaaaa….  

-BTR, seminggu kemudian. siang bolong 14.15 wib dan kucing-kucing yang tidur terlentang kegerahan- 
Read more
 

hujan, jalak dan daun jambu Design by Insight © 2009