catper trip lawu via ceto episode : SEGELAS KOPI DI POS 4

Kisah sebelumnya : episode WHAT HAPPEN IN  POS 3?

Jam 12.15 siang pos 4 Penggik (2520 mdpl)

Dan begitu kepala saya muncul di ujung tanjakan dan naik ke pelataran kecil itu. Ah.. Rupanya Joan dan Emma sedang bercakap-cakap dengan seorang bapak yang ada disana. Kami tiba di pos 4. Ada orang yang sudah lama kemping disini. Serombongan penduduk setempat yang akan turun lewat Ceto.

Katanya kami rombongan ke-enam yang naik lewat situ. Hah? Banyak juga. Salah dong kalau ada anggapan kalau ini jalur sepi. 

Ini hari ke 7 mereka disini. Dengan tenda seadanya, jemuran malang melintang di sekitar dan sebuah radio transistor yang dinyalakan. Tak terlalu keras, tapi cukup mengisi kekosongan benak orang yang ada saat itu. Dua orang sedang leyeh-leyeh tidur di dalam tenda. Nampak nyaman sekali. Salah seorang dari mereka sedang turun ke bawah. Yang lain sedang menimang-nimang bunga edelweis. Entah di dapat darimana. Mungkin kemarin dulu waktu mereka muncak.

Ada air?” tanya Kris.
“Ada mas.“ tapi lumayan juga kalau mau turun.
“Mata air? Sungai?” tanya saya lagi. Gembira. Hobi main air. 
“Dari pipa air”

Oooooo… mungkinkah pipa air yang kemarin kami lihat sepanjang jalur dari pos 1 itu berujung disini?

Kami dibuatkan kopi oleh salah satu bapak yang baik hati itu.  Berulang kali dia menatap kami dengan takjub.


“Perempuan semua?”maksudnya, ini yang naik perempuan semua-

"Hihihi.. ada pak, cowoknya satu. Tuh!”

Mungkin karena kasihan melihat kami yang belum pernah lewat sini. Mungkin juga karena pengalaman pribadi melewati super tanjakan yang alaihim itu. Sambil ngobrol, dengan cekatan ia meraut batang kayu untuk kami. Voila!! Lima batang trekking pole sudah jadi.

Aduh.. kami terharu!


di pos 4 ini ada dua teras bersusun. Jalur naik kami membelah kedua teras ini. Di sayap kiri teras pertama ada bangunan sederhana beratap seng tanpa dinding, mirip seperti shelter di pos 3 tadi. Yang sekarang jadi tempat persediaan kayu bakar mereka. 

Sedang di sayap kanannya ada pelataran tanah yang diatasnya dibangun tenda. Naik sedikit ke teras berikut, disanalah tempat kami menumpang masak dan istirahat. Tempatnya cukup luas. Cukuplah disini jika ingin dibangun sebuah tenda. 

Menu makan siang kami kali ini adalah mie rebus ditambah suwir-suwir ayam (sisa kemarin), tuna kaleng sumbangan Kris plus crackers keju. Kopi lagi. Teh lagi. Dan buah.

Selama perjalanan dari pos 3 ke pos 4 tadi jalurnya tidak begitu ekstrim, satu setengah jam pertama paling tidak sekitar 10-15 derajat kemiringannya. Tapi setengah jam selanjutnya barulah tanjakan 45-60 derajat yang membuat paha dan betis saya berdenyut-denyut.

“Aaaah… !!!” kopi- ini ada yang punya? Tanya saya lagi si penggemar kopi. Masih ada segelas kopi yang belum diminum.  Sambil menemani Joan dan Emma dengan sebatang rokoknya. Saya menyesap kopi dengan nikmatnya… ambooooy!!!

Wah.. tidak terasa sudah 2 jam disini. Mereka menolak snack dan cemilan yang kami beri. –ini tanda terimakasih kami karena sudah dibuatkan 5 gelas kopi- katanya, kami pasti lebih butuh karena akan naik. Duh.. baik banget ya mereka. Emma nyaris menangis karenanya “Sekarang udah jarang nemu orang yang kayak gini”

Mereka melepas kami dengan sebuah doa. Amin… semoga selamat di perjalanan.

Pukul 13.45 siang


Cuaca mulai gelap. Kami sudah memasuki hutan cemara yang pohonnya sangat rapat.

Mulai terasa dingin dan kabut pun sering turun menyambut kami. 

Kadang-kadang tebal hingga menutup pandang.



Kadang juga berupa siur angin yang mirip sekali suara aliran sungai. Atau bahkan turun tetes-tetes air akibat kabut terlalu tebal yang ia sendiri tak mampu lagi membendungnya.

Tinggal menunggu waktu saja. Sebentar lagi pasti turun hujan.

Dari sini jalan akan terus menanjak naik. Yah.. sekitar  45-60 derajat-lah. Empat puluh lima menit kemudian kami malah sudah menembus ketinggian 2715 mdpl. Ada pelataran datar. Dan dua pohon besar yang membingkainya.

Sepertinya sih ini puncak punggungan. Kami istirahat sebentar. Ada batang pohon rebah yang dapat kami gunakan sebagai sandaran. Emma, Joan dan Suwasti tergoda untuk menjepret jamur dan lumut yang ada di batang pohon itu. Cantik memang.

Tiba-tiba kabut pun terbuka. Lalu nampak puncak bukit di sebelah. Semua bertanya-tanya. Apakah nanti kami akan lewat situ?  Mengingat jalur yang kami ikuti sekarang mengarah kesana, terus ke kanan. Nah..nah… semakin menarik saja perjalanan kali ini. Hati saya mulai berdebar-debar.

Pukul 14.45 siang


Kami beranjak dari tempat ini. Lalu hujan pun turun. Kadang gerimis, kadang deras. Malas membuka raincoat, saya, Emma dan Joan membuka senjata andalan masing-masing. Payung!  lagipula jauh lebih aman karena melindungi tas kamera yang saya kalungkan di depan dada. 

Saya terus merapatkan barisan pada Emma dan Joan. Suwasti dan Kris agak tertinggal di belakang, Tadi mereka berhenti dulu untuk memakai raincoat. Dari sini jalurnya jelas sekali dan orientasinya selalu ke kanan. Sekarang jalurnya turun terus dan kemudian naik lagi melalui tanjakan yang ….. ampuuuun deh!


Lima belas menit kemudian, kami mencapai kaki punggungan tetangga. Tidak harus nanjak bukit sebelah yang tadi kami lihat. Tapi sedikit naik dan melipir di kakinya.  Kami mengikuti tanjakan tanah yang jalurnya yang berputar sedikit dan melewati hutan cemara yang nampaknya bekas terbakar di waktu lalu. Masih banyak batang-batang pohon yang menghitam. Walau kini semak belukar yang hijau mulai menghiasi diantaranya.

Rasanya tanjakan ini tak habis-habisnya. Emma dan Joan nampak tertelan kabut diantara pohon-pohon cemara hitam ini. Lalu tiba-tiba pandangan berubah.


Ah… hati saya bergemuruh.


Jadi inilah padang sabana itu. Seperti yang dijelaskan David waktu kami chat beberapa minggu lalu.

“Ada padang ilalang yang mirip seperti Cikasur, mbak”
–cikasur itu salah satu tempat di gunung Argopuro, Jawa Timur- dan karena ini pula yang membuat saya ingin lewat jalur ini.

Kami datang dari arah barat. Di sisi kanan kami hutan cemara be
kas terbakar itu, sedang disisi kiri kami ada hamparan padang ilalang yang luas. Rumputnya masih muda. Masih ABG.  belum setinggi rumput di Cikasur atau gunung Merbabu. Masih setinggi betis dan warnanya masih hijau daun pisang.

Padangnya indah sekali.

Andai waktu itu tidak hujan. Barangkali kami akan lebih lama bermain-main disini. 

Dan lautan rumput ini panjang sekali. Mungkin bandingannya sama seperti berjalan dari alun-alun timur menuju alun-alun barat surya kencana di gunung Gede.

Bedanya disini penuh rumput dan bukan pohon edelweis.


Bukan puncak gunung Gede dan Gumuruh di kanan kirinya, tapi siluet bukit dan hutan pinus di kanan kirinya.  


Saya, Emma dan Joan saling menjepret dengan kamera. Cukup lama juga kami disini. Tapi Suwasti dan Kris belum kelihatan. Lalu perlahan-lahan
kami berjalan menyusur padang ini. Beberapa kali pula kami berhenti menunggu mereka. Tapi belum kelihatan juga.Duh.. mereka ada dimana ya? Seharusnya mereka sudah  ada disini.

Pukul 15.30 sore POS 5 Bulak Peperangan (2820 mdpl)






Setelah lama mengarungi padang ilalang itu. Akhirnya saya temukan juga pos 5. Menurut info yang diberikan David sebelum kami kesini.

“Dulu di pos 5 ada shelternya, tapi sekarang sudah tidak ada lagi. tandanya hanya berupa batu propinsi saja. “

Jadi ini rupanya batu propinsi itu. Tapi ….“Ah .. mana Suwasti ya?” saya khawatir sekali.



next : kemana ya ibu yang satu itu?
Read more

catper trip lawu via ceto episode : WHAT HAPPEN IN POS 3?

Kisah sebelumnya di: episode bus armada sayur

17.30 WIB Pos 1 Reco Kethek (1715 mdpl)

“Pos 1 !!!“ jerit Emma.

Entah kekuatan darimana, saya ngebut. Semakin mendekati pos, senyum saya semakin mengembang. Ini jauh lebih cepat dari perkiraan kami semula. Kami tidak berhenti lama disini hanya foto-foto sebentar –teteeeeeuppp!!! - lalu kami pun berlalu.

Shelternya ada disisi kiri jalur.
Bentuknya mirip tenda pramuka, tapi yang ini terbuat dari  kayu dan bambu. Lantainya dari tanah tanpa dinding. Atapnya terbuat dari anyaman bambu yang warnanya sudah menghitam karena hujan. Orang harus merunduk untuk masuk dan duduk di dalamnya.

Formasi barisan –dan ini berlaku hingga kami turun- Emma, Joan, saya, Suwasti dan Kris paling belakang. Saya perhatikan Joan dan Kris memang terlahir untuk jadi pendaki. Badan ceking, tinggi tapi tenaganya kuat. Kalau mau, mereka sudah melesat beberapa menit –ehm… maksud saya beberapa jam  - jauh di depan.

Sedang saya, Emma dan Suwasti adalah tipe orang yang harus berjuang keras berlatih untuk menjaga stamina. Badan kami (cenderung) lebar kesamping, tapi sekseh.. hahaha…

Tapi kondisi saya sore itu tidak begitu bagus. Berkali-kali saya berhenti untuk mengelap keringat, minum dan mengatur nafas. Suwasti dan Kris dengan sabar menanti tak jauh dibelakang saya. Perlahan namun pasti kami bergerak terus. Hari mulai gelap. Tanpa diperintah, diam-diam kami mengeluarkan headlamp.

19.00 WIB Pos 2  Brakseng (1915 mdpl)


Jam tujuh malam di pos 2. Hari sudah gelap. Pepohonan tinggi diantara kami terlihat muram dan hitam. Baju saya sudah basah kuyup karena keringat. Lembab sekali disini. Gerah pula. Rasanya saya ingin sekali menendang kerir celaka ini  menggelar tenda, mengganti pakaian, makan dan langsung merebahkan tubuh. Batas ketabahan saya habis sudah.

Jadi saya tanya mereka satu persatu.

“Mau terus sampe pos 3 atau kita berhenti dan nginap malam ini?”

Emma bilang dia masih kuat untuk terus ke pos 3 tapi  kalau mau ngecamp di sini juga nggak apa-apa. Dia nyengir sambil berharap kami ngecamp saja.  Begitu juga Suwasti. Joan apalagi. Hhh.. diplomatis sekali 


“Kris?”
“Sudah malem. Lebih baik kita ngecamp disini.”


Dan kini mereka semua memandang saya.


“Saya capek sekali.” Sahut saya sambil nyengir.
“Kita ngecamp aja ya?” memang itu cita-cita saya dari pos 1 tadi.

Lagipula saya nggak suka jalan di waktu malam hari. Bukankah lebih baik segera istirahat memulihkan tubuh. Besok sih lanjut lagi, masih sekitar 1000 meteran lagi kami naik. Wadau.. masih jauh !! 

Maka kami membongkar bawaan masing-masing. Shelternya serupa seperti pos 1. Hanya letaknya ada di sebelah kanan jalur. Di depan shelter ini ada tempat yang sudah dibuka pendaki sebelumnya. Walau tanahnya tidak begitu rata dan berkali-kali tangan saya tersengat jelatang waktu mendirikan tenda tapi tempatnya cukup untuk membangun 2 tenda. 

Malam itu terang bulan, tapi saya ingin segera tidur. Setelah makan nasi dan lauk yang tadi pagi kami beli, saya menyelusup masuk ke dalam sleeping bag hangat saya. Sayup-sayup masih terdengar Joan dan Emma ngobrol di depan pintu tenda. Tak lama kemudian mereka pun menyusul saya.

Sabtu 27 Februari 2010 jam 06.10 pagi


“Kalau tau begini. Gue nggak akan bawa banyak logistik” protes Joan.

Kami bertiga –saya, emma dan Joan- dengan lugu duduk memperhatikan Kris dan Suwasti yang sedang membongkar logistik mereka. Ada tuna kaleng, cumi-cumi kering, sop sachet, buah-buahan dan rupa-rupa makanan siap saji lainnya. Nampak kontras sekali dengan kami yang hanya memegang bungkus mie instan dan kopi sachet.  Manajemen logistik kami tidak sevariatif mereka.

Saya sih gengsi, lebih baik menyuap roti isi keju dan segelas kopi bekal kami. Tapi akhirnya mengikuti Emma juga menyerbu nasi goreng buatan Kris. Hahaha..
maksud hati sih pengen icip-icip aja. Tapi kok keterusan ya hingga licin tandas. Mungkin tadi Kris cuma basa-basi aja nawarin nasi gorengnya.   Pasti dia nyesel deh. Maaf ya Bro..!!

Jam 08.45 pagi masih di pos 2.

“Siap ya!!!”

Sebelum beranjak dari pos 2, kamera saya dan Emma sudah kami tumpangkan di punggung kerir yang sekarang jadi tripod dadakan. Self timer-nya kami atur untuk 10 detik.  Sambil membidik sasaran, kami saling berbagi, akan berdiri dimana nanti. Lalu kami berdoa semoga hari ini dimudahkan perjalannya. Dilancarkan dan selamat hingga tujuan.

Jalur dari pos 2 ke pos 3 jelas sekali. Sama sekali tidak ada per
cabangan. Hanya saja, jalurnya sudah mulai menanjak. Berganti-ganti sih. Dari landai hingga tanjakan.

Bukan tanjakan setinggi paha yang penuh akar pohon untuk berpegangan. Tapi tanjakan berikut lumutnya. Dan ilalang semak belukar dikanan kirinya. –kemudian juga baru saya sadari, saya tidak memakai baju lengan panjang. Begitu tiba di rumah, sudah baret-baret karena luka tergores ranting pohon, sigh!-

Tanjakannya mulai aduhai sekal
i. Tapi dibanding kemarin sore, pagi ini hati saya terasa ringan. Kami sudah mulai masuk hutan. Tidak begitu rapat dan masih banyak semak belukarnya. Dan langit terlihat biru diantara pucuk pepohonan.

Keren deh!

Jam 10.15 pagi pos 3 Cemoro Dowo (2215 mdpl)


Akhirnya kami tiba di pos 3. Kami mencatatkan sekitar 1,5 jam jarak tempuh dari pos 2 ke pos 3. Dan seingat saya, sepanjang perjalanan tadi ada dua tempat datar yang cukup luas seandainya kemalaman dan harus menggelar tenda.

Pos 3 ini berupa dataran. Pada sayap kiri dataran ini ada shelter sederhana dari kayu dan atap seng. Tanpa dinding. Tapi cukup jika pendaki ingin berteduh ketika hujan. Sedang di sayap kanannya berupa dataran yang dapat digunakan untuk istirahat atau membangun satu atau dua tenda.

Tidak begitu lama kami berhenti disini. Tidak sampai 15 menit. Yaaa.. cukuplah untuk melemaskan kaki, minum susu dan mengunyah buah *pemberian Suwasti*.

Kecepatan kami cukup imbang.  Tidak terlalu lama berhenti dan konstan. Setelah mengisi perut, kami teruskan kembali perjalanan.

Emma dan Joan sudah beberapa puluh langkah di depan. Samar-samar saya mendengar suara orang. Kenapa begitu ramai ya?

Bersambuuuuuung…

-kemaren sore saya terima sms dari Joan.


From: Joan <+62856xxxxxxx)
14.03.2010 ; 16:26


Temans, dapat info dr bang Hendry HC kalo asep, mabk dwi, dan ari, yg sedang naik lawu lewat ceto, menemukan mayat perempuan pake rok di pos 3. Sudah dievakuasi penduduk, dan skrg mrk sudah turun, ga lanjutin pendakian….


next : 
Read more

catper trip lawu via ceto episode : BUS ARMADA SAYUR

setengah sebelas siang.

Bus tujuan Tawangmangu yang kami tumpangi hari itu penuh sesak. Wajar karena ini satu-satunya moda transportasi murah meriah hingga Tawangmangu. Isinya kebanyakan sih penduduk lokal. Dan kadang turis lokal seperti kami. Kali ini Emma menjadi bendahara team. Sebelum berangkat tadi kami sudah urunan untuk pengeluaran selama disini. Tiap orang dikutip Rp 6,000 hingga terminal Karangpandan.

Kami duduk agak di belakang. Berhimpitan bersama penumpang lainnya. Ada yang membawa barang keranjang belanjaan dan sayur mayur yang disusun rapi bersama kelima kerir kami. Tapi yang menarik adalah sekarang bus trayek ini sudah dilengkapi dengan TV dan perangkat DVDnya. Siang itu diputar pertunjukan organ tunggal dari kampung terdekat. Cukuplah membuat seluruh penumpang bergoyang.

Satu jam kemudian kami diturunkan tepat di depan pintu masuk terminal Karangpandan. Dari informasi yang kami googling sebelum kami kesini, dari Terminal Karangpandan, kami harus naik angdes menuju pasar Kemuning. Pasar ini adalah pasar di desa Kemuning, desa yang letaknya tak jauh dari Candi Ceto. Sebelum mencapai pasar Kemuning, ada pangkalan ojek yang dapat mengantar hingga candi Ceto. Menurut info, tarifnya Rp 25,000/motor.

Tampang culun kami berlima menarik perhatian salah seorang sopir angdes –angkutan pedesaan- itu. Sopir angdes ini usul untuk langsung carter saja hingga candi Ceto, karena biasanya angkutan ini hanya beroperasi di pagi hari, mengantar orang untuk jual beli di pasar Kemuning.

Tawarannya tak kami tolak. Toh masih masuk budget. Daripada nyambung-, kami sih pilih carter aja. Ongkos Rp 60,000 sekali carter. Lagipula, saya nggak yakin deh bisa naik ojek dengan beban seberat ini mampu melewati tanjakan menuju Candi Ceto yang super aduhai itu.

“Tapi nggak narik penumpang lagi ya?” tawar Kris. Trauma dengan trip di masa lalu yang malah kelamaan di jalan karena si sopir masih menarik penumpang di tengah jalan.

“Iyaa”


“Dianter sampe pintu gerbang candi ya?” tambah saya. –lagi males jalan jauh -

“Iyaaaa…!!!” sopirnya ngambek. Hehehe…

Jam satu siang kendaraan yang kami sewa benar-benar menghentikan mobilnya tepat di depan pintu gerbang Candi. Hahaha… wong ujung jalannya adalah pintu gerbang candi.

Walau sepanjang jalan mata kami dimanjakan oleh hijaunya kebun teh yang ada di kanan kiri kami, tadi kami sempat juga deg-deg an karena mobil terus menerus menanjak dan berbelok melewati tikungan tajam. Untung sopirnya amat cekatan membawa kendaraannya. 

Dan hujan pun turun.

“Great! “ keluh saya dalam hati.

Sambil membuka payung masing-masing dan membayar tiket masuk ke kawasan Candi Rp 2,500 per orang (Rp 10,000 untuk wisata mancanegara) setelah itu kami masuk ke salah satu warung yang letaknya tak jauh dari pintu gerbang candi. Ada sate kelinci sebagai menu utamanya.


“Apa? Kelinci?” Emma ragu-ragu. Joan juga sangsi.

“Haruskah kami makan makluk berbulu halus dan berwajah cute itu? “ tampang mereka berdua mendadak seperti kelinci  Oh.. rasanya tidak tega. 


Tapi akhirnya kami santap juga. Hanya Joan yang memesan sate ayam. Kami makan di teras warung –yang sekaligus menjadi rumah tinggal si ibu- Warung ini bangunan terdekat yang ada di depan kompleks candi. Sebenarnya kami tidak perlu khawatir jika datang kemalaman di tempat ini. Disini banyak penginapan. Saya nggak sempat tanya berapa harga sewa permalamnya. Dan disini juga ada beberapa warung makan, tempat parkir mobil dan motor berikut 2 toilet sederhana yang airnya dingin sekali.

15.30 WIB Pos Candi Ceto (1480 mdpl)

“Sekarang sudah jam setengah empat sore” ucap saya sambil menutup doa. Sambil melirik jam tangan “dan kita sudah ada di ketinggian 1500-an” lanjut saya lagi. Sedikit mengeluh –dan melenguh - karena molor lebih dari tiga jam. Seandainya tidak ada yang terlambat tadi, seharusnya kami sudah naik sekitar jam 1 siang tadi.

Kami berdiri tepat di depan pintu gerbang Candi. Ada puluhan anak tangga yang terus naik menuju gapura pertama. Ada sembilan teras–dari sebelas- yang telah direnovasi yang memanjang dari arah barat (tempat kami berdiri) dan terus naik ke arah timur mengarah ke puncak Lawu.

Sore itu cukup cerah. Hujan baru saja berhenti. Dan tempat wisata ini tidak terlalu ramai walau hari itu adalah hari libu
r nasional. Saya menduga karena sesiang tadi tempat ini terus diguyur hujan.


Untuk naik ke gunung Lawu, dari depan kawasan Candi Ceto ini entry pointnya dimulai dari gang pertama di sebelah kiri pintu gerbang Candi.

Ada jalan lebar yang sudah diperkeras dengan semen. Di beberapa titik malah dibuat trap tangga.

Perlahan kami berjalan menyusuri sisi utara pagar tembok kawasan Candi. Sebenarnya ada pintu masuk lagi. Kalau kita masuk ke kawasan candi, di teras keempat, ada beberapa pendopo kayu. Di sisi kirinya ada pintu keluar menuju tempat pemujaan patung Saraswati. Sama saja. Akhirnya jalan setapaknya juga akan bertemu dengan jalur naik kami barusan. Begitu sudah ada sedikit diatas kawasan Candi, jalur semen akan berbelok ke kanan menuju tempat pemujaan patung Dewi Saraswati.

Tapi kami memilih untuk terus lurus. Ada papan penunjuk arah menuju Candi Kethek.  Dari sini jalannya berubah menjadi jalan tanah. Walaupun begitu jalurnya jelas sekali. Kami terus berjalan hingga lima belas menit kemudian kami sudah bertemu dengan sungai. Sungainya sendiri tidak terlalu dalam dan lebar, tipe sungai yang kering ketika musim kemarau tiba. Airnya saat itu (akhir februari 2010) hanya semata kaki tingginya namun jernih sekali. Jalurnya kemudian bersambung di seberang sungai dan terus menanjak ke arah kanan.

Jam 16.00 WIB Candi Kethek

Nah.. lima menit jauhnya dari seberang sungai ini. Kami jumpai sebuah candi. Candi Kethek namanya. Bentuknya menyerupai punden berundak raksasa. Disusun dari tumpukan batu yang ditata mengikuti bentuk kontur tanah. Ada tambahan mahkota raja yang bercat emas di puncak candi ini. Mungkin karena sudah sore dan perjalanan masih jauh saya jadi tidak tertarik menjelajah isi candi ini. Menyesal juga kalau dipikir-pikir. mungkin lain kali deh, khusus datang kesini untuk tour de candi. 

Kami lewat di depan candi ini mengikuti jalan setapak yang terus mengarah ke arah kanan. Kadang kami temui pipa air milik penduduk di sepanjang jalan yang kami lewati. Jalannya jelas sekali tapi licin karena lumut. Dengan beban berat kami memang harus ekstra keras bertahan agar tidak terpeleset dan jatuh. Apalagi jalur sering tertutup rimbun semak belukar di kanan kirinya. Kami harus menyibaknya untuk melihat jalur dengan jelas. Pasti jarang sekali orang lewat sini.

Kami berjalan dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Beberapa kali masih berjumpa dengan ladang penduduk. Dan ketika mulai masuk hutan pinus pun, pohonnya tidak begitu rapat. Masih ada pohon perdu di kanan kirinya.

Jujur, kali ini saya frustasi ketika melihat jalurnya. Seharusnya saya senang karena jalan setapak ini cukup landai. Tapi kapan sampainya? Hehehe… pos 3 target kami hari ini masih jauh. Tapi kalau dipikir-pikir sih, sebenarnya saya jauh lebih frustasi karena beban bawaan saya yang berat ini. Kerir yang saya pakai kali ini tidak nyaman di pundak saya. Saya menyesal menukarnya di detik terakhir ketika akan berangkat kemarin. Saya jadi tidak dapat menikmati perjalanan sore ini.

sedih deh..curhat lagi deh

Previous story : empat plus satu
Read more

catper trip lawu via ceto episode : EMPAT PLUS SATU

Terminal Tirtonadi, Solo Jum’at 26 Februari 2010 jam 09.30 pagi

Saya marah besar. Tiba-tiba saja Suwasti datang ditemani Kris. Kami berbisik-bisik di sudut warung yang ada di depan pol bus trayek Solo-Tawangmangu. Saat itu Joan sedang mandi dan Emma memandang kami tanpa sempat  mengerti.

“Maaf, Na.” desah Suwasti. Wajahnya lelah sekali. Bus Safari Dharma yang ditumpanginya baru saja merapat. Bus tua yang terengah-engah sejak dari Jakarta dan baru delapan belas jam kemudian tiba disini. Oh, mereka terlambat sekali.

Kris seolah tak mendengar pertengkaran kami. Dia sibuk mengepak kembali kerirnya di pojok warung, tempat saya, Joan dan Emma yang sepanjang pagi ini menanti kedatangan mereka berdua.

“Kenapa Swas?” kejar saya lagi. “Kenapa aku justu tahu dari sms Heri semalam” hihihi.. gaya kami kayak drama di TV aja.  Udara terasa kering, peluh mulai bercucuran padahal saya baru saja menumpang mandi di terminal ini.

“Kita masih satu team kan?” Sambil memandang bus tujuan Tawangmangu yang bolak-balik mengisi penumpang di hadapan kami. Dan berkali-kali menampik ajakan kernet bus untuk segera masuk ke dalam bus.

Saya kecewa sekali. Berbulan-bulan kami merencanakan perjalanan ini. Hingga akhirnya kami berempat siap berangkat. Saya, Suwasti, Joan dan Emma.

“Kris bilang, dia nggak ingin yang lain tahu kalau dia ikut” “Kenapa?” Saya menggeleng-gelengkan kepala. Mendadak kepala terasa pening. Aneh. Tiket bus sudah mereka beli sejak awal bulan lalu, jika mereka mau, ada banyak kesempatan hampir sebulan untuk memberi tahu kami.

Saya tahu Suwasti sedang dekat dengan Kris.  Tapi Kris teman saya juga. Untuk alasan apapun, nggak mungkin kami akan jalan sendiri-sendiri seperti yang dia minta. “Kita akan berangkat bersama-sama dan tentu saja pulang juga bersama-sama”

Tapi tak lama kemudian kemarahan saya reda dengan sendirinya. Sudah terlanjur, ah… malah justru lebih meriah karena ada tambahan satu orang lagi. Sementara Suwasti dan Kris sarapan, saya bergegas mengajak Emma berkeliling terminal. Kami berdua berbelanja nasi dan lauk untuk bekal makan siang dan malam kami nanti.

Saya juga sempat ngobrol dengan seorang pendaki yang juga mau naik ke gunung Lawu melalui jalur  Cemoro Kandang. Dia sedang menunggu teman-temannya dari Jakarta. Hmm.. tumben sepi cetus saya dalam hati. Biasanya harpitnas seperti hari ini, terminal pasti penuh dengan pendaki yang juga berpikiran sama seperti kami.

Dan satu jam kemudian kami naik juga ke salah satu bus tujuan Tawangmangu.
Next : episode bus armada sayur

(to be continued ... tapi kalau mau lihat foto-fotonya ada disini
di lawu kulewati hutan yang kelabu dalam hujan)
Read more

di lawu, kulewati hutan yang kelabu dalam hujan




Akhirnya saya kembali lagi kesini. Mungkin ini kutukan. Bahwa saya akan terus datang dan datang lagi. Dalam perjalanan turun, beberapa tahun yang lalu di pos 1 jalur Cemoro Kandang. “Sudah berapa kali kesini? “ seorang bapak bertanya. Tak seorang pun pernah mengajukan pertanyaan ini kepada saya.  Saya belum layak untuk menjawabnya. “Kamu pasti akan kesini lagi” lanjutnya lagi. Saya tertegun. Rasanya jauh disana saya dengar lagi lagu ini;

Februari 26-28 2010, menuju puncak Lawu melalui jalur cantik bernama Ceto. Menyeberangi sungai, mendaki gigiran bukit, melintas padang ilalang dan tenggelam dalam hutan kelabu. Special thanks untuk my hubby atas perijinannya ;) special thanks juga untuk David Mario Ardana atas obrolan n chattingnya untuk info jalur Cetho. Ini kali pertama bagi kami berlima. Terimakasih teman-teman terkasih.
Emma K.N, Dewi Joan Sibarani, Suwasti Dewi Anitasari dan Kris Hartanto. Terimakasih juga untuk puisi cantik: hutan kelabu dalam hujan, Sapardi Djoko Damono, 1968
Read more
 

hujan, jalak dan daun jambu Design by Insight © 2009