Kami turun. Tidak jauh dari KSDA, ada warung nasi sederhana. Kami makan siang dengan telur ceplok dan sayur lodeh yang rasanya lezat sekali -perlu dicatat disini, sayur lodehnya nggak pake daun melinjo. Jadi ya dimodifikasi dengan potongan kacang panjang. Eh.. kalo udah dipotong, apa masih bernama kacang panjang? *penting banget nggak sih :p*- untuk praktisnya, kami pun memesan makan malam, memesan sarapan dan bungkusan makan siang untuk esok hari. Dan menjadi saksi reaksi cepat si ibu : memanggil orang untuk menyembelih ayamnya yang lucu, yang kami lihat sedang mengorek-ngorek tanah mencari makan di lapangan depan warung- “Untuk makan malam nanti” ucap si Ibu datar. Nafsu makanku hilang seketika. Nggak tega.
Aku datang ke bangunan Inti. Pengen ngobrol aja dengan mas Sugiono. Pada bangunan inti ini terdiri atas ruang tamu, dua ruang tidur, satu dapur dan kamar mandi. Di ruang tamu terdapat satu set sofa kulit dan satu meja kerja. Di dinding samping ada peta kontur kawasan pegunungan Argopuro yang digambar ulang diatas kertas kalkir. Astaga. Niat banget! Kenapa nggak beli peta kontur aja ya di Bakosurtanal?-
Karena penasaran mengenai issue jalur ojek dari Baderan ke Sikasur, sebelum berangkat kesini aku sempet ngobs dengan Ucup –posisi di
“S-E-R-I-U-S ?” tanyaku. (huruf kapital, font gede, warna merah)
“Iya. Lumayan Ries. Menghemat dua hari perjalanan” cetus ucup.
“Emang ada ojek kok, mbak!” kalo ini david yang ngomong.
“Seratus limapuluh ribu” ucup mulai bersemangat.
“Tapi bisa ditawar kok mbak” kata david.
“Danaunya eeeeenndaaaaah banget mbaaaak” racun David.
Jujur, aku sangsi. Nggak percaya. Kalau melihat peta konturnya, aku juga curiga. Apa iya dari 900-an bisa naik ke 2100m hanya dengan motor. Masih ada cemoro lawang masih ada alun-alun kecil dan gunung Jambangan sebelum Sikasur. Apa mau melintas jurang? But for the sake of gengsi :) aku memilih untuk jalan. Pembenaranku, ini perjalanan pertamaku ke Argopuro, sayang untuk dilewatkan dengan naik motor.
Mas Sugiono sudah selesai masak. Penganan yang baru dibuatnya disuguhkan kepadaku -dari tepung ubi isi serutan gula merah yang dikukus,nggak tau apa namanya- “betul mbak, memang ada jalur ojek dari sini ke Sikasur” jelas mas Sugiono. Sebenernya panjang banget sesi tanya jawabnya. Tapi begini ringkasnya.
Konon sudah sejak lama Argopuro dilirik investor –kita sebut saja investor X-. “Dari mana Mas?” “Nggak tau mbak, dari
Wangsa duduk dan bergabung “Yang mau dikembangkan? ” ini sudah potongan kue yang kesekian aku makan. “Di Sikasur itu, mau dibuat perkebunan tulip. Kalo mbak jeli, nanti di sungai sikasur yang banyak selada airnya itu, ada sisa-sisa tulip bekas peninggalan jaman belanda dulu” jawab mas Sugiono. “Mau dibangun kawasan wisata.” Tambahnya.
Dan proposal mereka disetujui. Atas restu Bupati, maka jalur pendaki dari Baderan mulai di perbaiki. “kapan itu Mas?” “Hmmm… akhir tahun 2005” Dibuat jalan makadam hingga batas hutan. Jalur trekking yang hanya satu jalur, diperlebar. “lha? Lembah sebelum Sikasur?” Ini mas Gimo yang tanya. Rupanya sudah sejak lama ia duduk dan bergabung dengan kami. “ya dibangun jembatan” . Maka jadilah jalur motor dari desa Baderan menuju lembah Sikasur.
Petugas di Baderan merasa kecolongan. Itu pun mereka ketahui dari info pendaki yang baru turun. Dan setelah pembangunan rampung pula. “Masak sih mas nggak ketahuan sama sekali? Jalan dan jembatan
Mas Sugiono malah curhat. Hanya ada dua orang petugas untuk mengawasi kawasan seluas ini. Apa mungkin bisa? Lagian penduduk Baderan yang diupah untuk membersihkan jalur, juga pada diem-dieman tuh. Siapa yang nggak tertarik dapet upah gede. Dibanding penduduk Bremi. Pendapatan perkapita penduduk Baderan sangatlah kecil. Buat mereka, ini adalah sumber ekonomis baru. “Kemarin ada 50 motor rombongan Bupati yang naik menuju Sikasur” ujarnya sedih. Akibatnya tak ada lagi kijang dan merak yang berani nongol di
Dadaku sesak.
yang mau ngintip sebagian foto ada di : dan lembah itu bernama lembah pembantaian