Sebesi... at the end of the day....




“kukuruyuuuuuuuuuukkk… guk!”


Luwoooh? Kok nggak nyambung yah? Mataku mencari-cari asal suara yang aneh itu.  Siang itu, kami lagi numpang istirahat dan makan siang di salah satu rumah penduduk di kampung Danau. Kampung terakhir sebelum puncak gunung Sebesi.  Rencana lama pengen kesana, menuntaskan rangkaian je je es di sekitar Lampung, baru sekarang kesampean.


(silakan nyambung ke The Tanggamus Code  atau    the Chronicles of Rajabasa, the nyamuk, the semut and the pacet )


Joe sibuk membagi sisa-sisa remah makan siang kami. Seekor ayam dan seekor anjing sedang berebut dengan damainya ..*piye toooh..berebut kok damai? J*


Pagi tadi kami berangkat dari tepi pantai, diantar oleh penduduk setempat, Basri namanya.  “ Berapa lama ya?” Tanyaku penasaran. “ Empat jaaam, tanpa beban!” jawabnya mantap. Aku dan Joe berpandang-pandangan.  


Gubraaaaaksss! Lama banget ya?


Bener juga, ternyata jalannya jauuuuuuuh sekali. Mengejutkan karena kami melewati hamparan sawah, tepat berada di tengah pulau. Nggak keliatan dari pantai karena tertutup pohon kelapa. Mengitari hampir tiga perempat lingkaran pulau, melewati kebun cengkeh dan kebun kelapa yang tak habis-habisnya selama tiga jam pertama.


Jalur baru sedikit naik hingga kampung Danau, untuk kemudian terus naik menerabas vegetasi karena jalur sudah on off akibat jarang orang yang naik.


Dan sejam kemudiaaaaan……. *hiks! Hiks!* Kami tiba di suatu tempat yang rapat dengan pepohonan dan lumut. Ada satu tugu triangulasi miring dan rebah diatas tanah.


“Ini puncaknya?” tanyaku penasaran. Sebesi sendiri memiliki tiga puncak, dan kami ada disalah satu puncaknya.


“ya…” sahut Joe dengan senyum lega …*karena kali ini tak sekor pacet pun kami jumpai…….hihihihihi*


 


(Gn. Sebesi 844 mdpl lampung Selatan,  7-9 Juli 2006; special thanks untuk Joe,  partner jalan kali ini, untuk keluarga besar Chandra di p. Sebesi, untukmbakyu Djoko yang selalu pantau dari jauh  dan Bleem… waktu ngobrol2 di Sukabumi awal Juli lalu)


 


Read more

Gumuruh.....there's a field, I'll meet you there...





Sementara Ical sibuk memasak nasi, Joko berbisik kepadaku.


“Kemaren, memang sengaja saya biarkan Ical yang masak“ kata Joko pelan-pelan sambil mengeluarkan dua kantong plastik besar dari daypacknya.


“tapi tidak kali ini.” Dan Joko mulai nyengir. “Khusus malam ini. Saya sendiri yang akan turun tangan.”


Aku dan Ical memandangnya dengan penuh rasa ingin tahu. Adit melongok dari tenda depan. Sementara itu Joko membongkar bungkusan yang amat sangat berharga. Kami saling berpandangan dan menahan nafas.


“Semur Jengkol…!!!” dan cengiran Joko bertambah lebar.


“Huahahahaha….!!! Mantaaaaaap…mantaaap!!!!” aku dan Ical ber Hi Fi!


Satu kantong berisi jengkol setengah rebus, dan satu kantong berikut berisi bumbu yang sudah diblender Joko jauh-jauh hari sebelumnya. Dan kini ia sudah siap memanaskan wajan dengan mentega. Siap mengolahnya menjadi hidangan yang slurp ….lezaaaaat……!


Saat itu sudah jauh dari malam. Kami baru mencapai alun-alun Suryakencana pukul 7 malam. Dingiiiin! Angin menderu-deru. Ical memilih tempat (persis) di tengah lapangan. Harapannya, ketika bangun keesokan hari, kami akan melihat puncak gede dan gumuruh dengan indahnya J


Sore tadi, kami melewati gua jepang yang ada di puncak gumuruh. Kami diam didekat makam Raden haji suryakancana dan menyaksikan matahari tenggelam dari puncak Gede dihadapan.


Dan memandang padang edelweis yang berwarna keemasan dibawah sana.


 IT’S PERFECT!!!



(sepotong daun untuk Joko, Ical dan Adit… thanks guys! … Gumuruh 2929 mdpl, 24-26 Juni 2006)

Foto lainnya ? coba deh nyambung kesini : http://photos.yahoo.com/ariesnawaty

Read more

The Tanggamus Code




“Ayo Ries… lanjuuuuutttt!!!”


Joe emang ogah duduk. Pacet bow! Anak itu emang paling geli dengan makhluk mungil yang berjenis pacet. Buktinya? *please refer our trip to Rajabasa a couple month ago* the Chronicles of Rajabasa - the nyamuk, the semut and the pacet!


Anyway, sejak kami turun dari puncak jam 10 pagi tadi, yang dilakukannya hanyalah berdiri dengan manis di tempat yang menurutnya aman tentrem gemah ripah lohjinawi dan sibuk check body. Rela menggendong keril daripada nanti harus menanggung beban ditumpangi segambreng pacet yang pasti akan nebeng hingga basecamp J


“Huuuuuuuu!!!!” Mulutku masih mengunyah makanan. Ini break ala militer kali yeeee? Baru ngunyah udah disuruh jalan lagi? Kan capeeek! Ini lutut dan pergelangan kaki, udah mulai gemeteran lagi kayak dulu. (hiks! … umur… I realize…hiks!)


“Ups… bentar!“ kataku, sambil menarik celana kiri. Kok parno aja, ada yang bergerak di betis. Sementara itu Joe amat sangat gemas dan penasaran datang mendekat.


Begitu terbuka…….. DHUEEEEEEER!!! Bagai disamber geledek kami berdua berteriak histeris.


Delapan ekor pacet nan mungil sedang ngerumpi dibetis kiri *sambil ngisep darah tentunya* gileeee… ngumpul gitu loh!


Dan Joe.. pingsan dengan suksesnya…. J


 (trip to gunung TANGGAMUS, 2101,5 mdpl, desa Tanggamus, kabupaten Tanggamus, Lampung. 25 - 28 may 2006)

Read more

Sekeping bayangan untuk Torean



Hari kelima


15.30 sore (in the middle of nowhere)


 


“Ini longsoran yang keberapa ya?” tanyaku sambil menoleh kebelakang. Kayaknya dari tadi, aku terus menerus mengulang ritual yang sama. Melewat longsoran tanah *serem juga kalo dipikir* melompati beberapa gelondong kayu. Menyibak ranting-ranting yang sudah mengering dan kembali menemukan jalur. Memasuki vegetasi pepohonan dan bertemu lagi dengan longsoran tanah….huaaa!!? Again?


 


“Udah dua belas kali Ries.” Jawab Ivan kalem. “Nggak percaya?” lanjutnya lagi begitu melihat ekspresiku.


 


“Mari kita ulangi lagi dari awal…hehehehe..!!” 


 


Huuuuuuuu!!! Nggak mutuuuuuu!!!!!


 


Jujur, ini jalur terindah yang pernah aku temui. Setiap detik, selalu mengejutkan. Sejak kami turun dari danau sejak pukul delapan pagi tadi, Kami selalu disuguhi pemandangan yang luar biasa indahnya.


 


Turun menyusuri sungai Lokok Putih, mampir ke Goa Susu, merasakan aliran air hangat, melewati Propok, menyeberangi sungai kering yang penuh dengan batuan dan diikuti si raja monyet! *hehehe..dipancing kacang juga sih* hingga diiringi lambaian selamat tinggal olehnya (sedih kali yeee?) kami kemudian menyeberang sungai yang deras alirannya. Naik melipir punggungan, melewati padang ilalang, mengambil jalan memutar, ‘terjepit’ diantara dua punggungan, kehilangan jalur, mencari jalur lagi, merapatkan diri pada dinding tebing, dan menatap kelokan sungai dibawah sana. Hingga berjalan bersisian dengan air terjun diantara ramainya suara air yang berkejaran jatuh jauh ke dasar …


 


(Humph!)


 


21.00 malam (di ds. Torean)


 


”Ries! Pakai bantal dulu!” kayaknya sih sayup-sayup aku denger suara Joe bilang begitu. Kami menumpang tidur di berugak milik salah seorang penduduk. Yang aku inget sih, pagi-pagi begitu bangun, udah ada bantal di kepalaku. *dibawah kepalaku maksudnya J* Malam itu aku tidur dengan nyenyaknya. Menyisakan mimpi tentang Rinjani di belakang. Rinduku terbalas sudah. Someday, hopely… aku datang lagi yaaa…


 


Kemayoran, 19 Mei 2006 22.19 wib (Rinjani 11-15 April 2006, along with Joe and Ivan)


 


Jalur Torean merupakan jalur ‘menyusur’ Sungai Lokok Putih. Sungai ini diapit oleh punggungan Gunung Sangkareang dan bukit Sembalun. Dari Danau Segara Anak jalur turun menuju Torean tidak begitu jauh dari jalur menuju Plawangan Sembalun. Dimulai dengan melewati satu bukit. Jalur terbuka penuh dengan padang ilalang. Jalur amat jelas, tapi licin karena lumut. Pada beberapa bagian, jalur terputus akibat longsor. Setelah itu jalan terus menurun ke arah kiri mengikuti batuan bekas aliran lahar. Kurang lebih sekitar 0.5 jam perjalanan, akan dijumpai ‘parit’ kecil berupa aliran air panas yang berasal dari Goa Susu.


 


Bila masih ada waktu, sempatkan untuk berkunjung kesana. Tidak sampai 5 menit perjalanan naik, kita akan  melewati beberapa kalak (kolam) aliran air panas yang ada di depan goa susu dan biasa digunakan peziarah untuk berendam. Sayangnya, ketika kami berada disana (awal April 2006) keadaanya sudah rusak total. Hanya tersisa satu atau dua buah kolam saja.


 


Sejam kemudian, tibalah kami di daerah yang disebut Propok. Tempat ini merupakan pertemuan tiga aliran sungai. Daerah ini luas sekali. Kami berjalan ditengah sungai kering yang penuh dengan batuan besar dan dilingkung oleh dua punggungan. Pemandangannya sungguhlah indah. Tidak jauh dari situ terlihat jelas air terjun hulu dari Lokok Putih. Selepas dari Goa Susu tadi jalur terus mengikuti parit aliran air panas, memotong satu punggungan bukit dan terus berjalan mengikuti aliran sungai. Mulanya jalur tepat berada di tepian sungai yang cukup lebar, kemudian  kami justru berjalan di tengah sungai kering.


 


Meninggalkan Propok, jalur masih berupa aliran sungai kering yang didominasi oleh batuan.   Sungai ini cukup lebar, sekitar 20-30 meter. Sempat diikuti oleh si raja monyet yang cukup penasaran J. Kami terus berjalan hingga bertemu dengan bagian sungai yang deras airnya.  Menyeberanginya dan terus berjalan naik meninggalkan sungai.


 


Jalur terus berpindah dari lereng sebuah punggungan bervegetasi rendah. Beberapa kali menuruni lembah dan naik kembali melewati pinggang punggungan. Jalur sempit dan licin, namun cukup jelas. Sejam kemudian kami masih melipir di punggungan tebing. Di bawah sana, aliran sungai yang berkelok-kelok menuju hilir nampak kecil karena jauhnya. 


 


Empat puluh lima menit kemudian, tibalah pada suatu tempat yang sangat mengagumkan. Kami berjalan di padang rumput yang diapit oleh tebing curam di sisi kiri dan kanan kami. Setelah itu, jalur masih terus mengikuti sungai kering dan melipir punggungan. Mulai dari sini, jalur cukup ekstrim karena hanya berupa satu jalur sempit, dengan tebing tinggi disisi kiri, dan jurang dalam disisi kanan dan terus seperti itu hingga sejam kemudian nampak air terjun Panimbang yang tingginya kurang lebih sekitar 75 meter. Sangat jelas karena posisi kami berada sebelah menyebelah dengan hulu aliran air terjun tersebut.


 


Satu jam kemudian kami mulai memasuki vegetasi hutan rapat. Sering jalur jalur hilang akibat longsoran tanah dan batang pohon. Beberapa kali jalur naik dan turun memotong sungai kering atau sungai dengan aliran air yang tidak begitu besar. Menuju pos 1, jalur jelas sekali dan amat sangat rapat oleh pepohonan. Di beberapa tempat ada tempat cukup luas untuk mendirikan tenda. Jalur relatif bersih, walau sering ditemui sampah berupa bungkus permen. Satu setengah jam kemudian, tibalah kami di pos 1. Di tempat ini, ada sebuah pondok tanpa dinding yang dapat dipergunakan untuk beristirahat. Di depannya, ada sebuah papan yang berisi tulisan : Anda telah berada dalam wilayah Taman Nasional Gunung Rinjani.


 


Selepas dari pos 1, jalur masih terus naik dan turun memotong aliran sungai. Kurang lebih sekitar satu jam perjalanan menembus rapatnya hutan, jalur semakin lebar dan mulai memasuki areal perladangan penduduk. Dari titik ini, puncak Rinjani dan Plawangan Sembalun, nampak jelas sekali. Masih terus melewati ladang dan rumah ladang milik penduduk. Ikuti saja pipa air yang ada disisi jalur. Menjelang desa Torean akan ditemui percabangan, bila ke arah kanan akan menuju kampung Sajang, sedangkan ke kiri menuju Torean.  Sejam kemudian kami sudah tiba di dusun Torean.


 


Di dusun ini tidak terlalu banyak penduduknya. Ada satu mesjid dan beberapa berugak. Listrik sudah masuk di tempat ini. Ada beberapa rumah yang tetap di konservasi seperti layaknya rumah adat Sasak. Akses menuju dan dari desa ini hanya berupa ojek atau kendaraan pribadi.


 


Dari Torean menuju Mataram dapat ditempuh dengan menggunakan ojek hingga Pasar Anyar, Bayan. Dengan biaya sebesar Rp 15,000  melewati jalan aspal dua jalur yang rusak berat disana sini. Perjalanan ditempuh kurang lebih selama satu jam dengan pemandangan lepas ke arah ladang dan laut utara.  Di pasar tersebut, terdapat kendaraan L-300 yang langsung menuju Mataram dengan waktu tempuh sekitar 3-4 jam perjalanan biaya perorangnya sebesar Rp 15,000.


 


pengen liat fotonya? monggoooo... nyambung ke :


a step to Rinjani


 

Read more

a step to Rinjani






"Jalur Torean longsor, nggak yakin deh bisa dilewati saat ini." Itu komentar penduduk dan para porter-porter yang kami tanya sore itu di Sembalun. “Medannya beraaaaaaat!!!”



Apa boleh buat, terpaksa keinginan itu kami pendam dalam-dalam. Berharap ada satu keajaiban. Tentu dengan seizin-Nya kami dapat turun ke sana. Bila tidak, mudah-mudahan suatu waktu, kami akan dipertemukan kembali.



Hati masih ragu sekaligus penasaran. Bukit penyesalan kami lewati. Plawangan sembalun kami habiskan sambil duduk termangu di sore hari. Puncak kami sapa sejak setengah dua subuh dari camp plawangan. Hingga akhirnya kami terdiam di tepi danau sembari menatap pelangi.



Setiap dari kami, diam. Sibuk bercakap dengan dirinya masing-masing,  sibuk meyakinkan hati masing-masing. Sibuk meredakan rindu pada air dan hutan.



Sementara pendaki lainnya, datang dan pergi menuju Senaru. Sisanya melanjutkan perjalanan menuju Plawangan Sembalun.



Dan kami masih di danau. Hingga akhirnya bertemu dengan porter yang baru saja turun dari Senaru dan hendak melanjutkan perjalanan menuju Torean.



"Memang, banyak yang pasang dan longsor akibat hujan waktu lalu. Jalur putus nyambung, tapi masih aman untuk dilewati.”



Wajah dari kami diam-diam melayangkan senyum.  Dan kami saling berpandang-pandangan…..



 Akhirnyaaaaa…….. J



 



(terutama untuk teman seperjalananku kali ini, Joe dan Ivan. Thanks guys! Sekeping bayangan untuk trip Rinjani 11-15 April 2006)



 



Yang pengen tahu rencana awalnya, silakan lihat disini : susur pantai ke ujung kulon ..(luooh?)atau pengen denger theme songnya? hehe... Kembang Padang Ilalang

Read more

pendaki superhero vs pendaki kemping ceria


 


“Ini Bang Daniel, bukan?” tanya Joko harap-harap cemas. *kalo ini acara reality show H2C seperti yang ada di sta. TV swasta itu waaah, dijamin kalah jauh deh* HT baru saja dikeluarkan. Frekuensi disesuaikan. Sedikit berharap dan mencoba keberuntungan. Semoga saja, ia sedang ada di ‘udara’ *maap maap deh, bukan burung loooh!*


 


Kecemasan Joko cukup beralasan. Pasalnya, waktu kami naik empat hari yang lalu, Bang Daniel tidak ada di pos 1 Harimau Campo, di tempat biasanya ia mangkal. Menurut warga desa Pinaga yang kami temui sebelum pendakian  “Lagi pulang kampuang!”


 


Tak lama kemudian.


 


“iya. Ini Daniel” suaranya jernih menyejukkan.


 


Kami semua menarik nafas lega. Saat itu hampir menjelang tengah malam. Salah kami juga sih. Terlalu siang turun dari pos Bumi Sarasah.  Heri sedang mengigit-gigit kuku, duduk berhimpitan dengan kerir 100 liternya di tengah semak belukar.


 


Ika masih berdiri dengan gagahnya, walau tadi dengan kerir besar segede kulkas dua pintu, berusaha mencari stringline yang kemaren kami pasang dan terus berjalan nyaris mencapai tepian air terjun yang ada di dekat pos Harimau Campo. Kalau saja tidak segera di kejar oleh Joko.


 


Sedang aku, duduk terdiam, sedikit diatas mereka. Memakai raincoat basah, dan duduk dengan pasrah di kelilingi pacet-pacet yang siap *dan sudah* menghampiri. Waktu turun, mata kananku terus berlinang airmata, berdenyut-denyut tiada henti dan kepala pusing luar biasa hebatnya. Dengan kata lain…. Tewas dengan suksesnya. Nggak bisa apa-apa boow!


 


“Kami hampir mencapai pos nih Bang Daniel. Cuma, kelihatannya terlalu melambung ke kanan .. mendekati air terjun, turun terus……… daaaaannn akhirnya” suara Joko semakin meninggi...


 


” …Guooooooool!”


 


Hihihihi..maaf nih pembaca, waktu itu saya lagi error. Dalam imajinasi saya sih begitu pendengarannya. Tapi sebenarnya, Mbakyu Djoko sedang berkomunikasi dengan Bang Daniel untuk kembali ke jalur yang benar *halah!*


 


Jadi inget kejadian kemaren malem. Waktu kami ngecamp di Pos Pondok Sarasah.


 


“Kagak salah nih Mbakyu? besok summit attack naek serebu meter?” tanyaku dengan takjubnya.


 


Joko nyengir.


 


“SERIBU METER???!!!” ulangku lagi masih dengan nada tidak percaya.


 


Heri menundukkan kepalanya dalam-dalam. Silent mode on dan masih sibuk check body. Apalagi kalo bukan terhadap pacet. Ika sudah rapi jali dan sedang mengupas bawang.  Malam itu kami sudah ngebase di Pos Pondok Sarasah. Melihat itinerary yang sudah kami buat sebelumnya. Whuuahahaahahaa……….. behind schedule semuaaaaa!


 


“Yaaah… gimana lagi. Mengingat, ada yang kepengen berfoto dibawah jam gadang!” jawab Joko sambil menyikut halus perut Heri dan melirik kepada Ika dengan penuh arti.


 


Huuuuuuuuu!!!! Aku tahu nih. Ini konspirasi! Sebenernya yang punya tekad kuat untuk berfoto dibawah jam gadang itu adalah diriku seorang.


 


“Puncak Talamau bukan tujuan utama. Berfoto dibawah jam gadang. Itu yang utama”  lanjut Mbakyu Djoko dengan mantap. Deu! gayanya udah kayak pejabat teras aja nih.


 


Bener juga sih. Setelah mereview perjalanan kami tiga hari terakhir. Jalurnya berat banget. IMHO nih. Kalo diklat, cocoknya emang disini. Dan yang ..ehem.. cukup jelas, managemen waktu kami yang buruk. Lengkaplah sudah.


 



Maka, setelah menimbang dan memutuskan, cukup beralasan juga bagi kami untuk summit attack keesokan harinya, langsung ke puncak. Dari Pos Bumi Sarasah 1865 mdpl ke Puncak Trimartha 2912 mdpl. Busyet daaaah!


 


Maka malam itu, daypack disiapkan berikut kamera dan tripod.  Ini sudah hari ketiga. Dapatkah kami terus menjaga semangat untuk terus maju?  Hehehe.. mengejutkan. Ternyataaaaaaaaa……


 



“Mhuaaannnaa ekspresi looooe?”


 


Seru mbakyu Djoko kepada kami bertiga. Gayanya udah kayak iklan di TV aja deh. Saat itu pukul setengah empat sore. Sesi foto-foto Maaan! Kami berdiri dengan rapi, tertawa bahagia, tepat dibawah kubah kecil yang berdiri solo diatas puncak Gunung Talamau. Thanks god. Walau kabut dan matahari hanya setengah detik nongol dibalik awan.


 


Nggak tahu kaaan kalo tadi kami berempat sempat bertangis-tangisan saking terharunya. *ceileeee.. cengeng bangeeeet*


 


Perjuangannya itu lho. Bro Heri saja nyaris patah semangat dan berniat untuk menuinggu kami di tepian telaga. Sementara aku, letih lesu tak bersemangat sepanjang perjalanan. Padahal kami semua nyaris tanpa beban, udah kagak pake kerir lagi. Tapi rasanya, perjalanan kali ini tiada berkesudahan. Lama banget!


 


Sambil menggelar trangia, sementara para banci foto : catat : Ika, Heri dan Mbakyu Djoko sibuk jeprat jepret disana sini *bencih akuuuh!* Aku ngebut masak teh+kopi hangat, mie+laukkan. Bukannya apa-apa Broer! Laper!!! Ritual makan siang yang tertunda seharusnya sudah sejak tadi kami lakukan.  Target hari itu tidak muluk-muluh deh. Segera turun kembali ke Pos Bumi Sarasah dan ngecamp semalam lagi.


 


Selepas Pos Paninjauan [2575 mdpl] tadi kabut tebal dan angin kencang selalu mengikuti pendakian kami. Padang Siranjano [2764 mdpl] Basecamp Rajawali [2782 mdpl] kami lalui dengan perlahan. Hanya sempat jeprat-jepret sebentar di tepi Talaga Si Untuang Sudah dan Telaga Puti Sangka Bulan. Hmmmm… what a journey …


 


“Ries!.. yuuuuks! Kita jalan lagi.” Kata Joko memecah lamunan. Ika dan Heri sudah siap di depan. Rupanya Bang Daniel yang baik hati itu berinisiatif menjemput kami.  Dibantu tongkat milik mbakyu Djoko, tersaruk-saruk aku melangkah. Lima menit kemudian kami sudah tiba di Pos Harimau Campo.  Senangnya melihat pos yang kering dan terang benderang itu. Warnanya kekuning-kuningan dan hangat sekali. Rupanya genset sudah dinyalakan.


 


Sambil memicingkan mata, aku kembali menoleh pada kegelapan hutan di belakang sana *sumpah, sebenernya kagak bisa ngeliat apa-apa J* Sampai ketemu lagi Talamau. Sungguh… tidak heran, banyak sekali yang penasaran untuk menyapamu !!


 


Sambil menundukkan kepala dan nyengir sendiri aku kembali berucap “ dan hehehehe.. Jam Gadang… I’m comiiiiiing!”


 




 


Tengkyu somad buat :




  • terutama buat R. Joko Sutias, Ika Dewi Kartika dan Heri Supriyanto ... temen seperjalanan kali ini.


  • Para nara sumber yang kami ‘teror’ baik via telpon, sms maupun email ..hehehe..: Mas Hendri, Ronny Kang di Bandung, Tammy, Alex… makasih yaaa!


  • Bang Daniel di pos harimau Campo atas keramahtamahannya dan bantuannya yang tanpa pamrih


  • Tukang ojek yang siap menjemput kami di tengah malam buta, walau sungguh kami tahu, setelah 6 jam hujan, jalanan licin. Masih harus mengangkut kami+kerir yang beratnya segede gaban


  • Warung di pos ds. Pinaga, untuk mie hangat+kopi+teh manis dan tumpangan untuk mandi


  • Temen-temen yang terus memantau kami, Jenny, Bro Kris, Aditya, Joe, Elly, dan temen2 lainnya yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.

schedule awalnya sih, ada disini : Talamau... I'm comiiiingggg!


 


foto-fotonya juga ada disini, monggoooo : mohon jangan goda pacar-pacar saya


ataaau ada juga disini : suatu pagi di depan jam gadang


 


t'shirt terkait  : KKC tshirt [limited edition]

Read more

mohon jangan goda pacar-pacar saya




itu adalah judul salah satu tulisan pada surat kabar setempat, yang ditempel pada dinding bilik pondok di Pos Harimau Campo. Pos pertama sebelum pendakian ke Gunung Talamau. Tempat dimana Bang Daniel bermukim beberapa tahun terakhir. Tempat dimana, ia mencatat satu demi satu pendaki yang ingin berkunjung kesana.



Begitu cintanya ia pada Talamau.



Itulah sebabnya... betapa berat rasanya perjalanan kami kesana. Betapa jauhnya.



Tapi derasnya hujan selama perjalanan menuju Bumi Sarasah sempat membuat kami ragu. Tapi pekatnya kabut di Padang Siranjano membuat kami 'lupa'. Tapi dinginnya angin di tepian Telaga Puti Sangga Bulan membuat kami 'lengah'.



"Sungguh Bang Daniel... kami tidak akan menggoda pacar-pacarmu"



*catatan kecil pendakian gn.Talamau 2982 mdpl, , 29 maret-3 april 2006 Pasaman, Sumatera Barat bersama temen-temen dari Klub Kemping Ceria :Joko, Ika dan Heri... I love u all!

schedule awalnya sih, ada disini : Talamau... I'm comiiiingggg!


spin offnya sih [hehehe...] please refer to this : suatu pagi di depan jam gadang


Read more
 

hujan, jalak dan daun jambu Design by Insight © 2009